User Tag List

Page 13 of 13 DepanDepan ... 3111213
Results 121 to 129 of 129

Thread: GENERASI SALAH ASUH ...

  1. #121
    myQ Pejuang limpoeng's Avatar
    Tanggal Bergabung
    Oct 2011
    Lokasi
    Padang Pasir
    Umur
    3
    Posts
    2,924
    Thanks
    49
    Thanked 73 Times in 50 Posts
    Mentioned
    135 Post(s)
    Tagged
    1 Thread(s)

    Sumber: angitbirusyiva.files.wordpress.com

    Intermezzo. Tentang gambar ini dan semisalnya, apa komentarmu?
    إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا | Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagaimana musuh

  2. #122
    myQ Pejuang
    Tanggal Bergabung
    Apr 2006
    Posts
    4,762
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    MENGEJUTKAN !! INILAH CURHATAN ORANG TUA MELIHAT RAPORT ANAKNYA '' Saya Tidak Bahagia Melihat Rapor Anak Saya '' INI ALASANNYA..


    Selamat Pagi Bapak dan Ibu Guru salam sejahtera dan salam edukasi !!
    Jika salinan rapor di atas adalah rapor anak Anda, apakah Anda bahagia?
    Saat menerima rapor dari guru kelas di sekolah tempat anak saya belajar lebih seminggu yang lalu, saya kaget melihat hasilnya. Saat masih duduk berhadapan dengan guru anak saya tersebut, saya termenung beberapa saat, seakan tidak percaya dengan apa yang tertulis di rapor anak saya tersebut. Dari satu sisi saya gembira dengan naik kelasnya anak saya. Tapi disisi yang lain, saya sungguh tidak percaya kenapa nilai rapor anak saya bisa seperti itu.



    Saya tahu betul dengan kemampuan belajar anak saya, itu tergambar jelas di setiap ulangan yang dijalaninya, apakah itu ulangan harian, atau ulangan tengah semester atau ujian semester. Setiap ada ulangan dan dia membawa hasil akhirnya pulang setelah diperiksa dan diberi nilai oleh gurunya, saya sering menangis dalam hati melihat kemampuan anak saya. Dalam bayangan saya sudah tergambar sebuah kecemasan, bahwa tahun ini anak saya tidak akan naik kelas.

    Lalu kenapa di saat saya datang mengambil rapor anak saya, saya mendapatkan nilainya begitu bagus? Lalu berceritalah sang guru, bahwa ini sangat berkaitan halnya dengan reputasi sekolah. Sekolah tempat anak saya belajar sudah mendapatkan akreditasi A. Dengan posisi seperti itu, maka pihak Dinas Pendidikan telah memberikan rating atau index angka Kriteria Ketuntasan Minimal dalam setiap mata pelajaran.

    Sebagai contoh, misalnya pada pelajaran agama, sebagai salah satu dari matapelajaran pokok, pihak dinas mematok angka 80. Dalam pengertian, setiap ada ujian atau ulangan, si murid harus mampu menyelesaikan mata ulangannya dengan persentase betul 80 persen dari soal yang ditanyakan. Bila dibawah 80 persen atau nilai yang berhasil dikumpulkan si anak kurang dari 80, maka angka ini akan mempengaruhi kemungkinan si anak tidak akan naik kelas, tergantung persentase nilai yang diraih sang anak, begitu juga dukungan dari mata pelajaran pokok lainnya. Bila mata pelajaran pokok lainnya si anak bisa mendapatkan nilai lebih dari 80, maka itu akan membantu mendongkrak nilai yang rendah tadi.

    Bila dalam satu kelas hanya satu atau dua anak yang mendapatkan nilai rendah, bisa saja mereka tidak naik kelas di tahun ajaran berikutnya. Tapi bagaimana kalau mayoritas murid mendapatkan nilai rendah saat ulangan dan ujian mereka? Sekolahlah yang menjadi taruhannya! Bisa terjadi pada penilaian akreditasi berikutnya sekolah akan turun jenjang akreditasinya.

    Yang tadinya A bisa melorot jadi B dan seterusnya. Dan itu dampak negatifnya sangat luas bagi nama baik sekolah yang bersangkutan. Bila itu terjadi, para orang tua murid yang mengetahui hal tersebut akan segera beralih mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah lain yang nilai akreditasinya lebih baik. Bagi guru dan kepala Sekolah, itu adalah perjudian besar jenjang karir mereka.

    Bila sampai terjadi akreditasi sekolah mereka turun, maka itu akan menjadi pembicaraan ramai di kalangan guru-guru itu sendiri. Para guru disekolah tersebut tidak akan bisa lagi berjalan dengan kepala tegak bila bertemu dengan sejawat sekolah saingan yang bisa mempertahankan atau malah meningkatkan akreditasi mereka.

    Mengatasi situasi yang tidak menguntungkan tersebut, maka gurulah yang menjadi sasarannya. Mereka bermain akrobat dengan angka-angka rapor murid yang mereka ajar, demi nama baik sekolah dan mempertahankan akreditasi terbaik yang mereka miliki. Juga untuk keamanan karir sang guru di tempat mereka mengajar, maka jalan satu-satunya adalah mendongkrak angka-angka sang murid yang ditulis di dalam rapor pada angka minimal tabel atau index Kriteria Ketuntasan Minimal.

    Buntutnya adalah kita akan menemukan murid-murid dengan nilai tinggi di rapor mereka, tapi sejatinya nilai mereka tidaklah layak untuk seperti itu. Bisa jadi nilai real yang mereka dapatkan adalah satu tingkat dibawah akreditasi sekolah mereka saat itu. Atau lebih jeleknya lagi dua tingkat dibawahnya. Lalu, pertanyaan yang selalu hadir dalam setiap ada kasus dalam dunia pendidikan kita adalah: Mau dibawa kemana dunia pendidikan kita?
    Miris…
    sumber : http://diankelana.web.id
    http://www.beritapgri.com/2016/07/me...orang-tua.html
    Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
    http://users6.nofeehost.com/alquranonline/AlQuran.asp

  3. #123
    myQ Pejuang
    Tanggal Bergabung
    Apr 2006
    Posts
    4,762
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    Khutbah Ied di Istiqlal, Nasaruddin Singgung Soal Perceraian, Pendidikan, Penafsiran Agama dan Generasi Qurani

    Jakarta (SI Online) - Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Dr H Nasaruddin Umar menjadi khatib Shalat Ied di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (06/07/2016).

    Pelaksanaan shalat Ied di Istiqlal dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara seperti Wapres HM Jusuf Kalla, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Ferry Mursyidan Baldan, Ketua MPR Zulkifli Hassan, Ketua DPR Ade Komaruddin dan sederetan pejabat lainnya.

    Dalam khutbahnya, Prof Nasaruddin menyinggung isu-isu terkini yang berkembang di masyarakat. Mantan Wakil Menag itu menyinggung soal angka perceraian, pendidikan, penafsiran agama, kebebasan beragama, aliran sesat hingga pembentukan generasi Qurani.

    Menurut Nasaruddin, generasi Indonesia di masa depan dinilai mengkhawatirkan dan sangat mencemaskan. Mereka menjadi generasi yatim. Ditambah lahirnya monster berwujud manusia.

    "Orangtua dengan pribadi yang lengkap secara spiritual dan emosional susah dicari," kata Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar saat menyampaikan khutbah Idul Fitri di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (06/7/2016).

    Nasaruddin mencontohkan, dari rata-rata dua juta pasangan menikah yang terjadi setiap tahunnya, 12 persen atau sekitar 200 ribu pasangan bercerai. Sedangkan 80 persen dari perceraian tersebut adalah pasangan usia rumah tangga muda.

    Belum lagi, dia melanjutkan, dunia pendidikan Indonesia yang semakin hancur dan jalan di tempat. Pendidikan hanya mementingkan kecerdasan saja tanpa kesantunan dan pendidikan moral yang sudah hilang.

    "Jika ilmu dipisahkan dari agama, dikhawatirkan yang akan lahir adalah monster berbentuk manusia," ia memperingatkan.

    Penafsiran agama, menurut dia, kini malah jadi bahan dagangan dan dangkal. Misalnya pemahaman toleransi yang dilakukan oleh bangsa ataupun pemerintah yang malah membuat kekeruhan. Ia mengecam kesalahan fatal masyarakat dan pemerintah dalam memaknai serta mengamalkan agama.

    "Atas nama kebebasan beragama, aliran sesat malah ditoleransi. Atas nama hak asasi manusia, homoseksual dan lesbian dihalalkan. Atas nama transparansi, kehidupan pribadi orang lain menjadi konsumsi publik. Atas nama demokrasi, kesantunan publik ditabrak," kritik mantan Dirjen Bimas Islam Kemenag ini.

    Untuk memperbaiki hal ini, menurut dia, harus dimulai dari lingkungan paling kecil. Tanpa harus saling menyalahkan dan mencari pembenaran.

    "Kita harus cemas dan mempersiapkan diri. Jangan meninggalkan generasi yang lemah. Jangan hanya khawatir soal kesejahteraan saja, namun juga moral, kepribadian, kesalehan sosial, dan keilmuan yang mumpuni," anjur Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat ini.

    Generasi Qurani

    Mengenai bagaimana mempersiapkan generasi bangsa yang lebih tangguh, kompetitif, lebih produktif, dan hidup di bawah bayang-bayang Alquran, menurut dia, dengan melahirkan generasi Qurani.

    Generasi Qurani yang dimaksud Nasaruddin, bukan hanya generasi yang rajin ke masjid, beribadah formal serupa puasa dan amaliah pribadi lainnya. Sebab beragama bukan soal ibadah dengan Tuhan saja.

    "Ukuran keberhasilan keberagamaan ternyata diukur dengan hal-hal yang bersifat sosial kemasyarakatan. Orang yang hanya mengutamakan ibadah ritual tanpa melahirkan makna dan efek sosial ternyata tak artinya. Segalanya baru berarti setelah diuji di dalam realitas kehidupan," ucap Nasaruddin.

    Generasi Qurani, menurut dia, adalah generasi yang tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga memiliki spiritual yang baik. Ada tiga hal penting yang mempengaruhi terciptanya Generasi Qurani. Pertama, lingkungan keluarga. Kedua, lingkungan sekolah pendidikan. Ketiga, lingkungan masyarakat.

    "Sudah saatnya kita memikirkan peta jalan generasi seperti apa yang kita inginkan di masa depan. Sudah kewajiban kita mempersiapkan generasi muda dan generasi masa depan. Ilmu agama bukannya membuat generasi menjadi kolot dan terbelakang, malahan lebih progresif," demikian ucap Nasaruddin.

    http://www.suara-islam.com/read/inde...enerasi-Qurani
    Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
    http://users6.nofeehost.com/alquranonline/AlQuran.asp

  4. #124
    myQ Pejuang
    Tanggal Bergabung
    Apr 2006
    Posts
    4,762
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    “30 Tahun Mendatang Anak Kita”

    Oleh : Ustadz Muhammad Fauzil Adhim

    Teruntuk para pendidik generasi peradaban

    Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak !

    Jika telah terikat hatinya dgn Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa.
    Jika engkau gembleng mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala2 yg menghadang.

    Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yg akan datang.

    Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.

    Maka, ketika engkau mengurusi anak2 di sekolah, ingatlah sejenak.
    Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan ... !!!

    Engkau sedang berdakwah.
    Sedang mempersiapkan generasi yg akan mengurusi ummat ini 30 tahun mendatang.

    Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yg memerlukan kesungguhan berusaha, niat yg lurus, tekad yg kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.

    Karenanya, jangan pernah main2 dalam urusan ini.
    Apa pun yg engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30-40 tahun yg akan datang.

    Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan...
    Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan ummat sedang engkau pertaruhkan !!!

    Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.

    Maka, ketika mutu pendidikan anak2 kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan...

    Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun hal ini sama sekali tidak kita inginkan.
    Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yg bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang.

    Apa yg akan terjadi pada ummat ini jika anak2 kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal ?

    Maka..., ketika engkau bersibuk dgn cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini.
    Bukan pula demi piala2 yg tersusun rapi.

    Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yg harus mengurusi umat ini di zaman yg bukan zamanmu.
    Kitalah yg bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yg boleh jadi kita semua sudah tiada.

    Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yg paling mengkhawatirkan adalah masa depan ummat ini.
    Maka, keharusan untuk belajar bagimu.

    Wahai Para Guru..., bukan semata urusan akreditasi.
    Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi.
    Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan ummat... Urusan dakwah.”

    Jika orang2 yg sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak2.
    Mereka mungkin cerdas, tapi Adab dan Iman tak terbangun.

    Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.

    Wahai Para Guru..., belajarlah dgn sungguh2 bagaimana mendidik siswamu.

    Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan.

    Engkau belajar dgn sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak2 kaum muslimin.
    Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
    Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.

    Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.

    Ingatlah hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

    إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

    “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat.”

    Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu ?”

    Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!”
    {HR. Bukhari}

    Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh2, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata.
    Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut Dien ini sebagai seorang murabbi (guru).

    Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yg engkau emban saat ini.

    Wahai Para Guru..., singkirkanlah tepuk tangan yg bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yg Allah Ta'ala berikan kepada mereka.
    Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.

    Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan Iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar.

    Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu.
    Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau2 ada yg menyimpang dari tuntunan-Nya.
    Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

    Wahai Para Guru..., sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yg paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yg mungkin akan terjadi.
    Ada yg lebih perlu engkau tangisi dgn kesedihan yg sangat mendalam.

    Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.


    Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan.

    Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan.
    Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya.
    Tanamkan adab dalam diri mereka.
    Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah.

    Bukan menyibukkan mereka dgn kebanggaan atas dunia yg ada dalam genggaman mereka.

    Ingat do’a yg kita panjatkan:

    "اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ"

    “Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yg benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya.
    Dan tunjukilah kami bahwa yg bathil itu bathil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

    Inilah do’a yg sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita.
    Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yg keliru.
    Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya.

    Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh PERSEPSI SENDIRI.

    Pelajarilah dgn sungguh2 apa yg benar; apa yg haq, lebih dulu dan lebih sungguh2 daripada tentang apa yg efektif.
    Dahulukanlah mempelajari apa yg TEPAT daripada apa yg MEMIKAT.

    Prioritaskan mempelajari apa yg BENAR daripada apa yg penuh GEBYAR.
    Utamakan mempelajari hal yg benar dalam mendidik daripada sekedar yg membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar.

    Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yg engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yg benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari.

    Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.

    Dakwah terhadap anak harus kita perhatikan.
    Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan.
    Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa.



    http://www.sahabatcyber.org/2016/07/...anak-kita.html
    https://osolihin.wordpress.com/2013/...-fauzil-adhim/
    Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
    http://users6.nofeehost.com/alquranonline/AlQuran.asp

  5. #125
    myQ Pejuang
    Tanggal Bergabung
    Apr 2006
    Posts
    4,762
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    Anak, Sang Peniru
    Sabtu, 23 Juli 2016 - 09:00 WIB



    HARI-hari bagi seorang anak penuh dengan pencermatan dan meniru apa saja yang dilakukan orang lain, terutama kalangan dewasa termasuk orangtuanya.

    Seperti bocah laki pada gambar ini. Dalam suatu proses pemakaman seorang Muslim di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, para pelayat mendoakan almarhum yang baru saja dikuburkan.

    Anak tersebut pun mengangkat tangannya, mungkin turut berdoa mengikuti orang-orang di sekelilingnya. Gambar dijepret hidayatullah.com pada Senin pagi, 22 Ramadhan 1437 H (27/06/2016).

    Dari raut wajah dan tatapannya ke papan nisan, anak ini sepertinya sudah merasakan kesedihan atas kepergian almarhum yang tak lain keluarga dekatnya. Suatu perilaku yang pastinya ia tiru dari orang-orang di lingkaran kehidupannya.

    Suatu keyakinan bagi banyak orangtua, mengajak buah hati ke tempat-tempat seperti pemakaman merupakan proses pendidikan untuk melatih empati dan kejiwaan anak.




    Di Balikpapan, Kalimantan Timur, seorang anak terlihat “bersusah payah” memasukkan uang ke kotak infaq di sela-sela khutbah Idul Fitri 1437 gelaran Masjid ar-Riyadh, Teritip (06/07/2016).
    Sementara di belahan wilayah lainnya, banyak disaksikan anak-anak yang merokok, mencabul, maupun bertindak anarkistis, dan lain sebagainya.

    Fenomena itu, diyakini banyak pihak, dilakukan oleh anak-anak karena meniru apa yang telah mereka saksikan. Baik secara langsung dari orangtua, maupun lewat berbagai media seperti televisi.

    Di Indonesia, setiap tanggal 23 Juli disebut sebagai Hari Anak Nasional. Sementara setiap tanggal merupakan hari dimana anak-anak harus selalu diperhatikan.

    Ada yang bilang, anak adalah peniru terbaik. Kepada mereka, mari memberi contoh yang benar dan baik!*

    http://www.hidayatullah.com/lensa/re...ng-peniru.html
    Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
    http://users6.nofeehost.com/alquranonline/AlQuran.asp

  6. #126
    myQ Pejuang
    Tanggal Bergabung
    Apr 2006
    Posts
    4,762
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    Generasi “Y” dan Generasi “554”

    Oleh: Ummi Ziyad

    TAHUN 2014, warga Desa Banyuurip, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik Jawa Timur dikejutkan kasus pembunuhan dan pemerkosaan dua siswi MTs Alfatah Ujungpangkah, Fidiatun Najihah (16) dan Nailus Sofi (16).

    Jajaran Polres Gresik menduga aksi pembunuhan kedua siswi ini akibat perkenalan dengan seseorang melalui jejaring sosial Facebook.

    Afia Wiji Rahayu (22), Kakak Shofi mengatakan, Shofi sering pamit ke warung internet (Warnet) setiap mengerjakan tugas.

    Isa Anshori, Direktur Hotline Pendidikan Surabaya, yang peduli masalah anak dan perempuan korban trafficking kepada media tahun 2014 menunjukkan temuan; umumnya anak-anak ABG korban trafficking dan prostitusi, tidak berfikir jangka panjang. Mereka dengan mudah terlibat ‘prostitusi gaya baru’ hanya karena ingin memiliki gadget versi baru sebagaimana teman temannya.

    Generasi X-Y

    Diantara kita sering mendengar istilah ‘Gen X’ dan ‘Gen Y’. Gen X atau adalah sekumpulan orang yang lahir pada tahun 1965-1980. Pada masa tersebut MTV dan video game menjadi suatu hal yang sangat diminati.

    Sementara Gen Y atau biasanya juga disebut sebagai Generasi Millenium, merupakan Generasi Yang muncul setelah Generasi X. Ungkapan Generasi Y itu mulai dipakai pada editorial koran besar di Amerika Serikat bulan Agustus tahun 1993.

    Generasi Y, yaitu generasi anak manusia yang lahir pada tahun 1981-1999. Generasi Yang pada tahun 2016 ini berusia antara 17-35 tahun. Di Indonesia, diperkirakan ada 90 juga Gen-Y pada tahun 2030 nanti.

    Menurut William Strauss dan Neil Howe, Generasi Y banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti: email, SMS, instant messaging dan media pertemanan seperti Facebook, twitter, smarthphone dan hidupnya tak bisa lepas dari internet.

    Harian The Wall Street Journal, pernah mencatat jumlah pengguna Facebook di Indonesia sampai dengan bulan Juni 2014 mencapai angka 69 juta anggota. Sedang pengguna Twitter sudah genap 50 juta anggota.

    Menurut CEO Facebook Mark Zuckerberg, Indonesia merupakan pasar yang potensial pengguna media sosial.

    Generasi Y dikenal sangat terbuka pola komunikasinya dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Mereka adalah pemakai media sosial yang fanatik. Mereka lebih disibukkan dengan HP, Ipad, Ipon, Gagdet, Tablet, Skype, Whatsapp dan cenderung abai dengan kondisi sosial masyarakat di sekitarnya (asosial).

    Secara sepintas, anak Gen Y terlihat pintar, aktif dan techno-minded. Namun sebenarnya mereka tergolong tak berdaya secara ruhani. Mereka mudah rapuh dan terpengaruh hal-hal yang instant. Sampai-sampai urusan sekolah, belajar, mencari ilmu, mencari jodoh hingga urusan curhat pribadi harus lari ke internet. Inilah anak-anak zaman yang dilahirkan dari ‘rahim teknologi’.

    Meminjam istilah penulis novel “Bidadari-Bidadari Surga” Darwis Tere Liye, inilah generasi “Kaum Cetek“. Hidup di dunia serba modern, namun jika mempertahankan kebenaran dan al – Haq, kita seolah menjadi terasing.

    “Dunia yang canggih tapi, jika kalian habis-habisan menjaga anak-anak, keluarga dari serangan homo, lesbi, maka kalian akan disebut homo-phobia. Sementara yang homo, lesbian, termasuk para pendukungnya mendapat lencana: orang paling toleran, berhati mulia, dan the best people yang pernah ada,” ujar Tere Liye.

    Generasi Y hidup di dunia lebay, di mana jika berusaha menjalankan ajaran agama, dan menegakkan perintah kitab suci Al-Quran, kita akan menerima nasib dan divonis; pendek pikir, dangkal, kampungan, berpikir mundur, intoleran dan semua gelar hina dina lainnya.

    Sementara mereka yang memilih jalan sesat seperti; homoseksual, lesbian, liberalisme dan aliran sesat justru mendapatkan sanjungan: manusia modern, sangat berpikiran maju, berwawasan, orang-orang terhebat yang pernah dilahirkan di muka bumi.

    Meski kita hidup di dunia terasing, sungguh, Allah Subhanahu Wata’ala telah memberikan janjinya untuk ‘orang-orang terasing’ di zaman seperti ini.

    Allah berfirman;

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

    “Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” [QS. Al Maa`idah [5]: 54]

    Itulah generai 5:54, yang keras terhadap orang-orang kafir dan sayang pada kaum Muslim. Ia membenci maksiat, tetapi sayang persaudaraan dan ukhuwah Islamiyah.

    Jika Allah membenci orang kafir dan kemaksiataan, hatta, diolok-olok intoleran dan tuduhan radikal. Ia tidak takut celaan dalam berpegang teguh terhadap agamanya, hatta, seperti memegang bara api.

    Mari jaga anak-anak kita agar menjadi generasi masa depan, yang tidak takut kepada “celaan orang yang mencela” dan ‘generasi terasing’ di antara banyak yang tersesat.*

    Penulis seorang konselor psikologi anak

    http://www.hidayatullah.com/kajian/j...erasi-554.html
    Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
    http://users6.nofeehost.com/alquranonline/AlQuran.asp

  7. #127
    myQ Pejuang
    Tanggal Bergabung
    Apr 2006
    Posts
    4,762
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    Menyiapkan Generasi Muslim - Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA
    https://www.youtube.com/watch?v=d0as1eL-yhE
    Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
    http://users6.nofeehost.com/alquranonline/AlQuran.asp

  8. #128
    myQ Pejuang
    Tanggal Bergabung
    Apr 2006
    Posts
    4,762
    Thanks
    1
    Thanked 2 Times in 2 Posts
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    Hubbun duniya...ummat islam yang terkepung dari segala arah, banyak tapi seperti buih buih....
    semua dimulai dari generasi yang lahir....

    https://www.youtube.com/watch?v=sZ9b...ture=autoshare


    Mendidik ANAK SHOLEH!! - Ceramah Singkat - Syekh Ali Jaber [PART 1]
    https://www.youtube.com/watch?v=rBooKG2mDSI

    Mendidik ANAK SHOLEH!! - Ceramah Singkat - Syekh Ali Jaber [PART 2]
    https://www.youtube.com/watch?v=cUVXG5OWvEo



    BUYA HAMKA

    Kita umat Islam pun dengan terus terang harus kita akui, kadang-kadang ditimpa juga oleh penyakit Yahudi ini.

    Tuhan telah pernah menganugerahi kemuliaan dan karunia kepada kaum Muslimin berabad-abad lamanya, sampai menaklukkan dunia Barat dan Timur.

    Tetapi satu waktu pamor Muslimin menjadi muram dan negerinya dijajah oleh bangsa-bangsa lain, dan mereka mundur dalam lapangan politik, sosial, ekonomi, dan kebudayaan, sehingga yang dapat dibanggakan oleh anak-cucu yang datang di belakang tidak lain hanyalah pusaka nenek moyang yang dahulu.

    Dengan tidak sadar si anak-cucu tadi membanggakan kemuliaan nenek moyang, tetapi tidak mau insaf dan tidak mau membina kemuliaan yang baru atau sambungan karena menyeleweng jauh dari garis agama yang diajarkan Rasul.

    Maka samalah keadaan kita dengan Yahudi.


    (Buya HAMKA, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1 Hal. 155, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015).

    Selengkapnya:
    https://osimilikiti.blogspot.co.id/2...uya-hamka.html
    Terakhir diperbarui oleh ihsan; 13-04-2017 pada 14:34.
    Al-Qur'an Online+Tafsir+Asb-Nuzul
    http://users6.nofeehost.com/alquranonline/AlQuran.asp

  9. #129
    myQ Newbie
    Tanggal Bergabung
    Jul 2017
    Posts
    2
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    Ana akui, pendidikan di dalam keluarga memang memiliki pengaruh yang besar pada tumbuh kembang anak. Jika itu tidak dimaksimalkan, maka anak2 yang kita rawat akan mengikuti arus lingkungannya. Bagus kalau lingkungannya baik, kalau enggak??
    Mau cari International school in Jakarta yang berkualitas baik dengan Program Billingual ? Kunjungi website kami

Page 13 of 13 DepanDepan ... 3111213

Similar Threads

  1. Pola Asuh Kelewat Ideal Justru Bahaya
    By ipin4u in forum Bina Keluarga
    Replies: 3
    Postingan Akhir: 27-11-2011, 06:06
  2. Replies: 17
    Postingan Akhir: 30-11-2008, 11:34
  3. Replies: 6
    Postingan Akhir: 24-02-2008, 23:04
  4. Program Kakak Asuh / Orang Tua Asuh
    By muhammadnur in forum myQers Medan
    Replies: 5
    Postingan Akhir: 14-05-2007, 08:22
  5. Pendirian Taman Asuh Anak Muslim
    By sriwulandari75 in forum Ibu dan Anak
    Replies: 0
    Postingan Akhir: 19-03-2007, 14:30

Bookmarks

Hak Akses Postingan

  • Kamu tidak boleh membuat thread baru
  • Kamu tidak boleh membalas postingan
  • Kamu tidak boleh kirim lampiran
  • Kamu tidak boleh mengedit postinganmu
  •