User Tag List

Page 11 of 11 DepanDepan ... 91011
Results 101 to 109 of 109

Thread: Bulughul Maram kitab NIKAH

  1. #101
    myQ Aktivis
    Tanggal Bergabung
    May 2008
    Lokasi
    Syam Bumi Berkah
    Posts
    2,324
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Re:Bulughul Maram kitab NIKAH

    [justify][size=15pt]Hukum Khutbah dalam Acara Pernikahan[/size]

    Hadits ke-7

    Abdullah Ibnu Mas'ud berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengajari kami khutbah untuk suatu hajat, “Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, kami meminta pertolongan dan ampunan kepada-Nya, kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami. Barangsiapa mendapat hidayah Allah, tak ada orang yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa disesatkan Allah, tak ada yang kuasa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya”, dan beliau membaca tiga ayat. Riwayat Ahmad dan Imam Empat. Hadits hasan menurut Tirmidzi dan Hakim.

    Isnad

    Hadits tersebut datang dari jalur Abu Ishaq As-Sabi’i dari Abu Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Nasai dari jalur Al-A’masy dari Abu Ishaq dar Abu Al-Ahwash dari Abdullah. Di dalamnya terdapat dua musykilah:

    Pertama, perbedaan riwayat. Abu Ishaq meriwayatkannya dari Abu Ubaidah dari Abdullah dan dari Abu Al-Ahwash dari Abdullah. Bagaimana ini?

    Kedua, di dalam kedua isnad tersebut terdapat kelemahan. Abu Ubaidah adalah putra Abdullah Ibnu Mas’ud. Dia tidak pernah mendengar dari ayahnya. Al-A’masy adalah tsiqoh mudallis dan tidak menyatakan mendengar secara terus terang.

    Jawaban dari musykilah pertama adalah bahwa kedua jalur tersebut shahih dari dua sisi. Imam Tirmidzi berkata, “Kedua hadits tersebut shahih, karena Israil menggabungkannya lalu berkata: dari Abu Ishaq dari Abu Al-Ahwash dan Abu Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.”

    Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata, “Ini yang menjadi sandaran (dalil) para ulama bahwa riwayat orang yang sendirian dengan sanadnya adalah shahih, jika hadits tersebut juga diriwayatkan oleh orang banyak (jamaah).”

    Diperkuat lagi bahwa Abu Ishaq adalah orang yang memiliki wawasan luas mengenai hadits.

    Adapun jawaban terhadap kelemahan dalam kedua sanad tersebut adalah bahwa kelemahan tersebut sangat ringan, dan satu sama lain saling menguatkan. Maka derajatnya naik menjadi hasan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Tirmidzi. Ditambah lagi bahwa hadits tersebut juga diriwyatkan oleh Abu Daud dan Thabrani dalam Al-Kabir dari jalur Abu Iyadh dari Ibnu Mas’ud secara marfu’. Abu Iyadh adalah majhul, tapi riwayatnya sah sebagai mutaba’at.

    Kesimpulannya bahwa hadits tersebut memiliki ‘illah yang tidak parah.

    Mufrodat

    Tasyahhud, maksudnya khutbah. Disebut demikian karena khutbah mencakup tasyahhud. Dan tasyahhud termasuk inti khutbah.

    Hajat, artinya kebutuhan, yaitu sesuatu yang menjadi kebutuhan manusia. Beberapa literatur menyebutkan bahwa hajat yang dimaksud dalam hadits ini adalah pernikahan. Sebagian ulama ada yang tetap menganggap bahwa hajat di sini bersifat umum dan mencakup seluruh hajat manusia, tidak hanya pernikahan saja.

    Tiga ayat. Yang dimaksud tiga ayat sebagaimana disebutkan dalam riwayat Tirmidzi dan Nasa’i adalah sebagai berikut:

    1. An-Nisa 1:

    Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

    2. Ali Imran 102:

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

    3. Al-Ahzab 70-71:

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.

    Hukum

    Hadits tersebut menunjukkan disunnahkannya khutbah dalam acara hajatan. Para ulama bersepakat mengenai hal ini.

    Ibnu Qudamah berkata, “Khutbah tidaklah wajib menurut salah seorang ulama yang kami ketahui[1], kecuali Daud (Azh-Zhahiri), beliau mewajibkannya berdasarkan apa yang telah kami sebutkan,” maksudnya hadits Ibnu Mas’ud di atas.

    Akan tetapi pendapat Daud tertolak berdasarkan hadits lain yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengesahkan beberapa akad tanpa menyertainya dengan khutbah. Di antaranya adalah hadits wahibah (wanita yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam). Beliau bersabda kepada lelaki yang hendak menikahinya, “Aku nikahkan kamu dengan dia dengan (mahar) hafalan Quranmu,” tanpa berkhutbah apapun. Dan kejadian semacam ini sangatlah banyak, tak perlu disebutkan satu-persatu di sini.

    Kemudia kata “hajat” (kebutuhan) dalam hadits di atas secara umum memang mencakup seluruh hajat. Akan tetapi para ulama menafsirkan kata itu dengan “pernikahan”.

    Hadits-hadits yang menyebutkan tentang khutbah sangatlah beragam redaksinya. Secara keseluruhan menunjukkan disunnahkannya membaca hamdalah, dua syahadat, dan beberapa ayat Al-Quran[2].

    Sebagian kalangan mengira bahwa khutbah Ibnu Mas’ud dalam hadits di atas bersifat wajib dalam setiap pembukaan kitab atau surat. Dalam hal ini, mereka terkecoh dengan kata “hajat”.

    Pendapat ini tentu saja tidak benar, dengan bukti sebagai berikut:

    Pertama, surat-surat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang beliau kirim kepada para raja (Kaisar, Kisra, dll) tidak tercantum di dalamnya khutbah semacam ini. Beliau hanya menulis basmalah saja.

    Kedua, surat-surat yang dikirm oleh Khulafaurrasyidin juga tidak tercantum di dalamnya khutbah.

    Ketiga, kitab-kitab karangan para ulama, baik dari kalangan ahli hadits maupun ahli fikih, juga tidak menyebutkan khutbah ini dalam pembukaannya. Mereka hanya menyebutkan basmalah, hamdalah dan shalawat, tanpa tasyahhud (dua kalimat syahadat) dan tanpa ayat-ayat. Sebagian ulama memang menyebutkan tasyahhud, akan tetapi tidak ada khutbah Ibnu Mas’ud, kecuali hanya dalam kitab Musykilul Aastsaar milik Ath-Thohawi dan beberapa kitab milik Ibnu Taymiyah. Wallahu a’lam bis showab.[/justify]


    Footnote:
    • [li][1] Al-Mughni 6/536, Ibn Abidin 2/359, Minahul Jalil 2/5, Ad-Dasuqi 2/216, Mughnil Muhtaj 3/137-138.
      [/li]
      [li][2] Keterangan lebih lanjut silahkan baca artikel berjudul “Khutbah Hajat Bukan Sunnah dalam Pembukaan Kitab dan Karangan” karya Syaikh Abdul Fattah Abu Ghuddah (majalah As-Sunnah was Siroh vol. 11, diterbitkan secara khusus oleh Dar Al-Basyair).[/li]


    [hr]

    [justify][size=15pt]Melihat Calon Pasangan[/size]

    Hadits ke-8

    Dari Jabir bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Apabila salah seorang di antara kamu melamar perempuan, jika ia bisa memandang bagian tubuhnya yang menarik untuk dinikahi, hendaknya ia lakukan." Riwayat Ahmad dan Abu Dawud dengan perawi-perawi yang dapat dipercaya. Hadits shahih menurut Hakim.

    Hadits ke-9

    Hadits itu mempunyai saksi dari hadits riwayat Tirmidzi dan Nasa'i dari al-Mughirah.

    Hadits ke-10

    Begitu pula riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari hadits Muhammad Ibnu Maslamah.

    Hadits ke-11

    Menurut riwayat Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bertanya kepada seseorang yang akan menikahi seorang wanita: "Apakah engkau telah melihatnya?" Ia menjawab: Belum. Beliau bersabda: "Pergi dan lihatlah dia."

    Isnad

    Hadits Jabir di atas dishahihkan oleh Hakim sesuai standar Imam Muslim, dan diamini oleh Adz-Dzahabi. Akan tetapi dikritik dari sisi perowi bernama Waqid bin Abdirrahman, dengan alasan bahwa perowi tersebut tidak diketahui (laa yu’rafu).

    Jawabnya: Waqid bin Amr, sebagaimana disebutkan dari dua jalur lain pada riwayat Ahmad dan Hakim, adalah seorang tsiqoh. Al-Hafizh berkomentar, “Demikianah dia menurut Imam Syafii dan Abdur Razzak.”

    Kedua, terdapat perowi bernama Muhammad bin Ishaq bin Yasar (Imam Al-Maghazi), dia seorang shaduuq (jujur) tapi mudallis. Sedangkan dalam riwayat tersebut dia mengunakan kata ‘an (dari), dan tidak menerangkan bahwa ia ‘mendengar’.

    Jawabnya: hadits tersebut dikuatkan oleh syawahid lainnya. Bahkan sebagiannya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath pun menyatakan bahwa hadits tersebut hasan.

    Adapun hadits Mughirah bin Syu’bah, Imam Tirmidzi meng-hasankannya. Redaksinya seperti ini: Ia (Mughirah) mengkhitbah seorang wanita, lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Lihatah ia, karena yang demikian itu lebih dapat melanggengkan hubungan kalian berdua.

    Adapun hadits Muhammad bin Maslamah, di dalamnya terdapat Al-Hajjaj bin Arthaah, seorang dhaif mudallis. Seluruh jalurnya tak ada yang selamat dari kritik. Al-Baihaqi berkomentar, “Isnadnya diperselisihkan. Sumbernya adalah Al-Hajjaj bin Arthaah.”

    Akan tetapi hadits itu memiliki penguat dari syawahid. Bahkan perowi dari kalangan Sahabat mencapai enam orang.

    Hukum

    Sejumlah hadits di atas secara jelas menunjukkan perintah kepada orang yang mengkhitbah, atau yang hendak mengkhitbah, untuk melihat calon pasangan yang hendak dikhitbah.

    Para ulama bersepakat mengenai disunnahkannya nazhor (melihat calon pasangan) sebelum akad. Alasannya adalah, bahwa perintah tersebut terjadi pada hal-hal yang secara asal dilarang (yaitu melihat bukan mahrom), maka hukum tersebut kembali pada asalnya, yaitu boleh. Akan tetapi berdasarkan hadits Mughirah di atas, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Lihatlah ia, karena hal yang demikian itu lebih dapat melanggengkan hubungan kalian berdua,” maksudnya lebih dapat menjadikan kalian berdua bersepakat, maka hadits tersebut menunjukkan istihbab (sunnah).

    Hadits tersebut tidak menyebutkan batasan-batasan dalam nazhor. Mayoritas ulama berpendapat bahwa diperbolehkannya nazhor hanya sebatas pada wajah dan dua telapak tangan saja. Bahkan Ulama Hanabilah membatasi hanya pada wajah saja. Wajah adalah tempat berkumpulnya kecantikan. Sedangkan dua telapak tangan menunjukkan gemuk atau kurusnya badan. Karena pada dasarnya melihat bukan mahrom adalah dilarang kecuali hanya sesuai kebutuhan (hajat), maka kebolehan ini dibatasi oleh hajat tersebut. Maka selain itu hukumnya tetap haram. Wallahu a'am bis showab.[/justify]

    [hr]

    [justify][size=15pt]Larangan Melamar Lamaran Orang Lain[/size]

    Hadits ke-12

    Dari Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Janganlah seseorang di antara kamu melamar seseorang yang sedang dilamar saudaranya, hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari.

    Hukum

    Hadits di atas menunjukkan keharaman meminang (khitbah) pinangan orang lain, yaitu seorang lelaki meminang seorang wanita dan diterima oleh wanita itu, atau diterima wali yang telah diizinkan oleh wanita itu untuk menikahkannya, kemudian datang lelaki lain meminang wanita tersebut. Seperti ini hukumnya haram. Begitu juga jika di antara kedua belah pihak telah terjadi kerukunan (saling suka), atau yang dalam adat kita sering disebut ‘kesepakatan awal’. Adapun jika masih berupa permintaan, dan belum ada persetujuan maka tidaklah mengapa.

    Hukum ini disepakati oleh para ulama. Bahkan Imam Nawawi menyatakan bahwa hukum ini mencapai derajat ijma’.

    Hikmah diharamkannya khitbah di atas khitbah orang lain adalah demi menjaga ukhuwah dan rasa saling mencintai antar sesama muslim dalam sebuah masyarakat. Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah halal seorang muslim membeli barang yang sudah dibeli oleh saudaranya. Dan tidak halal pula seorang muslim mengkhitbah wanita yang telah dikhitbah oleh saudaranya, kecuali jika ia membiarkannya (mengizinkannya).” (HR. Muslim)

    Kemudian, kata “saudaranya” dalam hadits di atas menunjukkan kebolehan seorang muslim meminang wanita Ahli Kitab yang telah dipinang oleh seorang laki-laki dzimmi, karena orang kafir tidak termasuk kategori “saudaranya”. Maka tidak ada ukhuwah di antara seorang muslim dan kafir.

    Akan tetapi mayoritas ulama, di antaranya Malikiyah dan Syafiiyah, tetap mengharamkan hal semacam itu, karena dapat menyakiti pihak pertama (yaitu dzimmi). Mereka menjawab pendapat tersebut dengan mengatakan bahwa kata “saudaranya” di sini tidak menunjukkan syarat, tapi kebiasaan, yaitu biasanya seorang muslim mengkhitbah seorang muslimah juga, jadi tidak ada pensyaratan dalam hadits ini.

    Sabda beliau, “hingga pelamar pertama meninggalkan atau mengizinkannya” menunjukkan dilepaskannya hak pihak pertama yang telah melamar wanita tersebut sehingga pihak kedua boleh melamarnya. Wallahu a’lamu bis shawab.[/justify]

  2. #102
    myQ Pejuang
    Tanggal Bergabung
    Apr 2008
    Posts
    5,823
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Re:Bulughul Maram kitab NIKAH

    aku punya kitab ini, e-book juga punya, tapi belum terbaca bab nikah
    [size=13pt]Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih;
    dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang
    telah dijanjikan Allah kepadamu"
    (Al Fushshilat: 30).

  3. #103
    myQ Aktivis
    Tanggal Bergabung
    May 2008
    Lokasi
    Syam Bumi Berkah
    Posts
    2,324
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Re:Bulughul Maram kitab NIKAH

    [justify][size=15pt]Hadits Wahibah (Seorang Wanita yang Menyerahkan Diri)[/size]

    Hadits ke-13

    Sahal Ibnu Sa'ad al-Sa'idy Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada seorang wanita menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku pada baginda.” Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memandangnya dengan penuh perhatian dari atas hingga bawah, kemudian beliau menundukkan kepalanya. Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk. Berdirilah seorang shahabat dan berkata: "Wahai Rasulullah, jika baginda tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya.” Beliau bertanya: "Apakah engkau mempunyai sesuatu?" Dia menjawab: “Demi Allah tidak, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: "Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu?"

    Ia pergi, kemudian kembali dan berkata: “Demi Allah, tidak, aku tidak mempunyai sesuatu.” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi." Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata: “Demi Allah tidak ada, wahai Rasulullah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi, tetapi ini kainku.”

    Sahal berkata: “Ia mempunyai selendang yang setengah untuknya (perempuan itu).” Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: "Apa yang engkau akan lakukan dengan kainmu? Jika engkau memakainya, ia tidak kebagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya, engkau tidak kebagian apa-apa." Lalu orang itu duduk.

    Setelah duduk lama, ia berdiri. Ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melihatnya berpaling, beliau memerintah untuk memanggilnya. Setelah ia datang, beliau bertanya: "Apakah engkau mempunyai hafalan Qur'an?" Ia menjawab: “Aku hafal surat ini dan itu.” Beliau bertanya: "Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?" Ia menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: "Pergilah, aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur'an yang engkau miliki."

    Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim. Dalam riwayat lain: Beliau bersabda padanya: "Berangkatlah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia al-Qur'an." Menurut riwayat Bukhari: "Aku serahkan ia kepadamu dengan (maskawin) al-Qur'an yang telah engkau hafal."

    Hadits ke-14

    Menurut riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu beliau bersabda: "Surat apa yang engkau hafal?". Ia menjawab: “Surat al-Baqarah dan sesudahnya.” Beliau bersabda: "Berdirilah dan ajarkanlah ia dua puluh ayat."[1]

    [size=13pt]Studi Matan[/size]

    Ada seorang wanita menemui…” dalam kebanyakan riwayat begitulah redaksinya. Dalam riwayat lain, “Berdirilah seorang wanita”, maksudnya ia datang lalu berdiri di antara para jamaah, bukan pada asalnya duduk lalu berdiri.

    Rasulullah memandangnya dengan penuh perhatian dari atas hingga bawah,”. Maksudnya memperhatikan wanita tersebut dengan seksama dari bagian atas hingga bagian bawah, sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi. Dalam kitab Al-Mufhim, Imam Qurthubi mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memandang wanita tersebut berulang-ulang.

    “…kemudian beliau menundukkan kepalanya…”, dalam riwayat lain, “beliau tidak menjawabnya dengan sesuatu apapun”.

    [size=13pt]Hukum[/size]

    Dalam hadits Wahibah di atas terdapat hukum-hukum dan faedah-faedah yang sangat banyak. Imam Bukhari dalam Shahihnya membagi hadits tersebut dalam sub judul (tarjamah) yang bermacam-macam. Berikut ini di antaranya:

    1. Kitab Wakalah (perwakilan), bab Seorang Wanita Mewakilkan Imam Dalam Pernikahan.

    2. Kitab Keutamaan Al-Quran, bab “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan Al-Quran.” Imam Bukhari memasukkan hadits ini dalam bab tersebut dikarenakan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menikahkan wanita tersebut dengan kemuliaan Al-Quran. Sisi lain, keutamaan Al-Quran tampak pada diri seseorang di dunia, sehingga dapat menggantikan posisi harta saat diperlukan. Sedangkan keutamaannya di akhirat tidak perlu diragukan lagi.

    3. Bab Menghafal di Luar Kepala. Ibnu Hajar berkata, “Hal itu tampak pada sabda beliau: “Apakah kau akan mengajarinya dari hafalanmu?”. Ia menjawab: ya. Hal itu menunjukkan keutamaan membaca Al-Quran dari hafalan di luar kepala, karena hal itu lebih memungkinkannya dalam mengajar.

    4. Kitab Nikah, bab Menikahkan Orang yang Kesulitan Sedangkan Ia Memiliki Al-Quran dan Islam. Ibnu Hajar berkata, “Judul tersebut diambil dari sabda beliau: “Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi”. Kemudian lelaki itu mencari namun tidak mendapatkannya. Kendatipun demikian, beliau tetap menikahkannya.”

    5. Bab Seorang Wanita Menawarkan Dirinya Kepada Lelaki Shalih. Ibnu Hajar berkata, “Di antara keunikan Imam Bukhari adalah ketika mengetahui kekhususan hadits wahibah ini, beliau mengambil hukum dari sesuatu yang tidak ada kekhususannya, yaitu bolehnya seorang wanita menawarkan dirinya sendiri kepada seorang lelaki shalih karena mencintai kesalihannya. Hal itu diperbolehkan.

    6. Bab Melihat Wanita Sebelum Menikah.

    7. Bab Jika Wali Nikah Adalah Pelamar Itu Sendiri. Maksudnya apakah ia boleh menikahkan dirinya sendiri ataukah membutuhkan wali lain.

    8. Bab Penguasa Adalah Wali.

    9. Bab Jika seorang pelamar berkata kepada walinya: “Nikahkan saya dengan si dia”, kemudian wali menjawab: “Saya nikahkan kamu dengan dia dengan mahar sekian dan sekian”, maka pernikahan sah, meskipun si pelamar belum menjawab, “Saya terima atau saya rela.” Imam Bukhari mengambil kesimpulan demikian berdasarkan hadits wahibah di atas. Tidak ada riwayat yang menunjukkan bahwa lelaki tersebut menjawab, “Saya terima.” Bangkitnya lelaki tersebut untuk mencari cincin dari besi adalah bukti penerimaannya.

    10. Bab Menikahkan Dengan Al-Quran dan Tanpa Mahar.

    11. Kitab Pakaian, bab Cincin dari Besi. Beliau (Imam Bukhari) mengambil kesimpulan bahwa memakai cincin dari besi adalah diperbolehkan. Meskipun kesimpulan demikian kurang tepat, karena mencari tidak sama dengan memakai. Boleh mencari belum tentu boleh memakainya.

    12. Kitab Tauhid, Bab “Katakanlah siapakah yang lebih besar kesaksiannya?”

    [size=13pt]Penjelasan[/size]

    1. Hukum Menikah Tanpa Mahar

    Kata wanita tersebut, “Wahai Rasulullah, aku datang untuk menghibahkan diriku pada baginda,” menunjukkan bolehnya menyerahkan urusan pernikahan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Seolah-olah wanita tersebut mengatakan, “Saya menikahi anda tanpa imbalan.”

    Hukum ini khusus bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saja. Dalilnya firman Allah, “…dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin.” (QS. Al-Ahzab: 50). Hal ini menjadi ijma’ para ulama.

    Adapun menghibahkan nikah kepada selain Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, maka ada dua macam:

    Pertama, bermaksud menghibahkan secara hakiki, yaitu menikah tanpa mahar. Maka nikah semacam ini dianggap bathil (tidak sah), karena hal itu menjadi kekhususan bagi Nabi saja.

    Kedua, bermaksud memberikan (hak menikmati) tubuhnya dengan tetap membayar mahar. Di sini terdapat perbedaan pendapat:

    Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah membolehkan nikah semacam ini, karena kekhususan hanya terletak pada pernikahan tanpa mahar, sedangkan di sini masih ada mahar.

    Syafiiyah menganggap pernikahan semacam ini juga bathil karena kata hibah berarti tanpa mahar meskipun diucapkan dengan mahar.

    Kesimpulannya, perbedaan pendapat ini kembali pada akar permasalahan di kalangan para fuqoha, yaitu mengenai lafal (redaksi) akad pernikahan.

    2. Jenis Mahar

    Sabda beliau, “Apakah engkau mempunyai sesuatu?” dan “Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi.” Secara zhahir menunjukkan bahwa benda apapun boleh dijadikan mahar, meskipun nilainya sangat rendah.

    Ibnu Hazm berkata, “Mahar boleh berupa apapun selama bisa dinamakan ‘sesuatu’, walaupun hanya sebutir gandum, berdasarkan sabda beliau: Apakah engkau memiliki sesuatu?”

    Pendapat ini ditentang oleh para ulama karena dinilai terlalu berlebihan dalam mengecilkan nilai mahar. Mereka berhujjah dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “(yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini,” (QS. An-Nisa: 24), dan hadits, “Dan barangsiapa belum mampu (menikah), hendaklah ia berpuasa.”

    Ulama Syafiiyah berpendapat bahwa benda yang boleh dijadikan mahar adalah setiap sesuatu yang bisa diperjualbelikan atau disewakan, selainnya tidak boleh.

    Sedangkan menurut ulama Hanafiyah dan Malikiyah, benda yang boleh dijadikan mahar tidak boleh kurang dari nishab potong tangan dalam masalah pencurian[2], yaitu sepuluh Dirham menurut Hanafiyah atau seperempat Dinar menurut Malikiyah. Alasannya adalah Al-Quran menegaskan bahwa farj (kemaluan wanita) tidak dihalalkan kecuali dengan imbalan harta yang diperhitungkan, sesuai firman Allah, “(yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini.” (QS. An-Nisa: 24), sedangkan jumlah nominal terendah yang diperhitungkan adalah nishab potong tangan dalam masalah pencurian. Itulah pendapat yang diambil oleh kedua mazhab tersebut.

    Adapun mengenai hadits di atas, mereka mengatakan bahwa apa yang diminta oleh Rasulullah tersebut bukanlah mahar, melainkan ‘uang muka’, sehingga kewajiban membayar mahar semisal masih tetap dibebankan kepada si suami setelah itu.

    Masalah ini adalah masalah khilafiyah yang bisa dirujuk kembali dalam kitab-kitab turats[3].

    3. Shighat Akad Nikah

    Sabda beliau di akhir hadits, “Aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur'an yang engkau miliki,” menunjukkan sahnya akad nikah dengan shighat tamlik (lafal pemberian), baik itu berupa kata menikah, kawin atau sejenisnya. Ini adalah pendapat yang diambil oleh ulama Hanafiyah. Mereka membolehkan shighat akad nikah dengan lafal hibah, sedekah atau lafal-lafal lainnya yang menunjukkan berpindahnya kepemilikan suatu benda secara utuh dari satu orang ke orang lain[4].

    Sedangkan ulama Syafiiyah, Hanabilah dan Malikiyah menganggap tidak sah pernikahan yang diucapkan dengan selain lafal nikah, kawin atau turunan katanya saja. Jika diucapkan dengan kedua lafal tersebut maka pernikahan dianggap sah, meskipun tanpa menyebutkan mahar, karena mahar adalah kewajiban yang harus dibayar meskipun tidak disebutkan[5].

    Pendapat tersebut disandarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada khutbah wada’, “Maka bertakwalah kalian kepada Allah dalam masalah wanita, karena kalian telah mengambil mereka sebagai amanah dari Allah, dan kalian menghalalkan kemaluan-kemaluan mereka dengan kalimat Allah.” Yang dimaksud kalimat Allah adalah pernikahan (an-nikah) atau perkawinan (az-zawaj), karena hanya kedua kata itu yang disebutkan dalam Al-Quran, selain itu tidak ada, maka wajib dibatasi sebagai langkah kehati-hatian dalam ibadah.

    Adapun berkenaan dengan lafal hadits yang berbunyi, “Aku serahkan wanita itu untukmu,” mereka mengatakan bahwa hadits itu diriwayatkan secara makna saja, tidak letterlik, karena mayoritas riwayat yang lain berbunyi, “Aku nikahkan kamu dengan wanita itu,” atau “Aku kawinkan kamu dengan wanita itu,” padahal kejadiannya hanya sekali saja[6].

    4. Hukum Memakai Cincin

    Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Carilah walaupun hanya sepotong cincin dari besi,” Imam Nawawi berkesimpulan bahwa memakai cincin dari besi adalah diperbolehkan bagi laki-laki. Inilah pendapat ulama Syafiiyah yang dianggap rajih oleh Imam Nawawi.

    Pendapat lain dalam mazhab Syafiiyah sebagaimana pendapat Malikiyah dan Hanabilah menyatakan makruhnya memakai cincin dari besi, tembaga atau kuningan[7].

    Sedangkan menurut ulama Hanafiyah, cincin yang boleh dipakai hanya berasal dari perak saja. Selainnya tetap haram, seperti emas, batu, besi, kaca dan lain-lain[8].

    Seluruh ulama mazhab mengambil hukum tersebut berdasarkan hadits dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya, bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda kepada seseorang yang memakai cincin dari logam kuningan, “Mengapa aku mencium darimu bau berhala?”. Beliau juga pernah bersabda kepada seseorang yang memakai cincin dari besi, “Mengapa aku melihat perhiasan penduduk neraka menempel padamu?”[9] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai)

    Akan tetapi terdapat hadits lain yang lebih kuat dari Al-Mu’aiqib, “Dahulu cincin Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berasal dari besi yang dibengkokkan, di atasnya terdapat perak.”[10] (HR. Abu Daud dan Nasai)

    Para ulama lain berkomentar terhadap sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, “Walaupun hanya sepotong cincin dari besi,” bahwa yang dimaksud hadits itu adalah upaya mengecilkan nilai mahar dan memudahkan orang-orang yang kesulitan secara ekonomi sehingga si istri tetap bisa memanfaatkan harga cincin tersebut meskipun sangat rendah, bukan diperbolehkannya memakai cincin[11].

    Wallahu a’lamu bis showab.



    [size=8pt]Footnote:

    [1] Bukhari bab “Menikahkan Orang yang Kesulitan” 7/6-7, Muslim bab “Mahar dan Bolehnya Berupa Mengajarkan Al-Quran” 4/143-144, Bukhari bab “Seorang Wanita Menawarkan Dirinya Sendiri Kepada Lelaki Shalih” 7/13, Abu Daud bab “Menikahkan Dengan Amal Diamalkan” 2/236 dari hadits Sahl dan Abu Hurairah, Tirmidzi bab “Mahar Wanita” 3/421, Nasai 6/113, Musnad 5/330, 336.

    [2] Nishab potong tangan adalah nilai minimal yang diberlakukan dalam masalah pencurian sehingga setiap pencuri yang mencapai nilai tersebut wajib dipotong tangannya.

    [3] Lihat Al-Mufhim 4/129-130, An-Nawawi 9/213, Fathul Bari 9/165, Nailul Authar 6/171-172.

    [4] Fathul Qadir dan Al-Hidayah 2/221, Az-Zaila’i ‘alal kanz 2/96-97, Ibn ‘Abidin 2/368.

    [5] Ad-Dasuki ala Syarh Al-Kabir 2/221, Minahul Jalil 2/11-12, Mughnil Muhtaj 3/140-141, Al-Mughni 6/533.

    [6] Syarah Shahih Muslim milik An-Nawawi 9/214, Ihkamul Ahkam 2/198-199.

    [7] Al-Majmu’ 4/344, Al-Adawi 2/412-413, Al-Mughni 8/323.

    [8] Ad-Durr 5/314-315.

    [9] Abu Daud bab “Cincin dari Besi” 4/90, Tirmidzi akhir bab Pakaian 3/248, Nasai bab Perhiasan 8/175.

    [10] Tahdzib Sunan Abi Daud 6/115, At-Taqrib, Al-Majmu’ 3/344, Syarah Muslim 9/213.

    [11] Lihat jawaban dan diskusi dalam kitab Ma’alimus Sunan karangan Imam Khattabi 6/115, Hasyiyatul Adawi 2/413, dan lain-lain.[/size][/justify]

  4. #104
    myQ Perambah gumuruh's Avatar
    Tanggal Bergabung
    Sep 2011
    Lokasi
    west java
    Umur
    29
    Posts
    448
    Thanks
    0
    Thanked 5 Times in 4 Posts
    Mentioned
    6 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Re:Bulughul Maram kitab NIKAH

    inspiratif.... alhamdulillah....

    mmbuatku untuk berfikir lagi perihal menikah dan bersegera....
    Dapat Gali Ilmu Terbaru Kursus Training Corporate Bermanfa'at? Ya di Bandung?
    Coba... >> SINII >> Http://fgroupindonesia.com

  5. #105
    myQ Perambah gumuruh's Avatar
    Tanggal Bergabung
    Sep 2011
    Lokasi
    west java
    Umur
    29
    Posts
    448
    Thanks
    0
    Thanked 5 Times in 4 Posts
    Mentioned
    6 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Re:Bulughul Maram kitab NIKAH

    [quote author=Rial_abdirrahman link=topic=46462.msg1429669#msg1429669 date=1228055070]
    Hadits ke-159
    Dari Abu Said Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda tentang tawanan wanita Authas: "Tidak boleh bercampur dengan wanita yang hamil hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil hingga datang haidnya sekali." Riwayat Abu Dawud. Hadits shahih menurut Hakim.


    Hadits ke-160
    Ada hadits saksi riwayat Daruquthni dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu

    Hadits ke-161
    Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Anak itu milik tempat tidur (suami) dan bagi yang berzina dirajam." Muttafaq Alaihi dari haditsnya.


    Hadits ke-162
    Demikian juga hadits riwayat Nasa'i dari 'Aisyah dalam suatu kisah dari Ibnu Mas'ud dan riwayat Abu Dawud dari Utsman.


    Hadits ke-163
    Idem


    Hadits ke-164
    Idem


    Hadits ke-165
    Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sekali dan dua kali isapan itu tidak mengharamkan." Riwayat Muslim.
    [/quote]


    eh, baru 'ngeuh...
    apa itu IDem?
    Dapat Gali Ilmu Terbaru Kursus Training Corporate Bermanfa'at? Ya di Bandung?
    Coba... >> SINII >> Http://fgroupindonesia.com

  6. #106
    myQ Junior
    Tanggal Bergabung
    Jul 2012
    Lokasi
    jakarta
    Umur
    31
    Posts
    55
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Re:Bulughul Maram kitab NIKAH

    tank y atas keterangannya semoga bermanfaat

  7. #107
    myQ Setia
    Tanggal Bergabung
    Oct 2008
    Lokasi
    Makassar-balikpapan
    Umur
    30
    Posts
    10,915
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Re:Bulughul Maram kitab NIKAH

    masyaAlloh postingan masa laluku.
    ayo bljar tntang pernikhan yg syar'i, mengamalkannya dan mndkwahknnya.
    Add pin BB 753ABFC4

  8. #108
    myQ Junior
    Tanggal Bergabung
    Feb 2014
    Lokasi
    Jepara
    Posts
    62
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    cocook nih untuk bahan nambah ilmu pengetahuan

  9. #109
    myQ Newbie
    Tanggal Bergabung
    Mar 2017
    Posts
    17
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    Alahmdulillah

    cincinkawin
    menikah adalah ibadah. benar kan?

Page 11 of 11 DepanDepan ... 91011

Similar Threads

  1. BULUGHUL MARAM - KITAB SHALAT
    By Kak Husain in forum Sholatku
    Replies: 2
    Postingan Akhir: 29-05-2013, 05:08
  2. KAJIAN KITAB BULUGHUL MARAM
    By Kak Husain in forum Kajian Quran dan Hadits
    Replies: 1
    Postingan Akhir: 30-09-2009, 04:21
  3. BULUGHUL MARAM - KITAB PUASA
    By Kak Husain in forum Ramadhan dan Idul Fitri
    Replies: 0
    Postingan Akhir: 12-04-2009, 21:10
  4. BULUGHUL MARAM - KITAB HAJI
    By Kak Husain in forum Umroh Haji dan Idul Adha
    Replies: 0
    Postingan Akhir: 12-04-2009, 21:03

Bookmarks

Hak Akses Postingan

  • Kamu tidak boleh membuat thread baru
  • Kamu tidak boleh membalas postingan
  • Kamu tidak boleh kirim lampiran
  • Kamu tidak boleh mengedit postinganmu
  •