User Tag List

Results 1 to 4 of 4

Thread: Tuhan tidak berubah menjadi bertempat setelah diciptakan Arsy

  1. #1
    myQ Aktivis
    Tanggal Bergabung
    Sep 2009
    Posts
    1,317
    Thanks
    0
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Tuhan tidak berubah menjadi bertempat setelah diciptakan Arsy

    Tuhan tidak berubah menjadi bertempat setelah diciptakan Arsy



    Hal yang harus diperhatikan jika mengutip perkataan atau pendapat ulama Salaf ataupun Imam Mazhab yang empat dan para pengikutnya terkait ayat-ayat sifat maka kita harus dapat membedakan apakah perkataan atau pendapat tersebut berfungsi menyampaikan untuk menjelaskan atau sekedar ‘ala sabilil hikayah, menetapkan lafazhnya (itsbatul lafzhi) saja; yaitu hanya mengucapkan kembali apa yang diucapkan oleh al Qur’an, “Ar-Rahmanu alal arsy istawa” atau “A’amintum man fis sama’“. Tidak lebih lebih dari itu; yaitu tidak memaknakan (tafsir) atau tidak menetapkan maknanya (itsbatul ma’na) secara dzahir bahwa Allah ta’ala berada atau bertempat di langit atau Allah berada atau bertempat di atas ‘arsy.

    Ibn al Jawzi secara khusus membuat kitab berjudul Daf’u syubahat-tasybih bi-akaffi at-tanzih contoh terjemahannya pada http://mutiarazuhud.files.wordpress....n-al-jauzi.pdf untuk menjelaskan kesalahpahaman tiga ulama yang semula Hanabila yang merupakan guru guru besar kaum Musyabbihah atau Mujassimah seperti

    1. Abu Abdillah al-Hasan bin Hamid bin Ali al-Baghdadial-Warraq, wafat 403 H, guru dari Abu Ya’la al-Hanbali. Beliau ini pengarangbuku ushuluddin yang bernama “syarah usuluddin” dimana diuraikan banyak tentang tasybih, yaitu keserupaan Tuhan dengan manusia.

    2. Muhammad bin al Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Ahmadal-Baghdadi al-Hanbali, dikenal dengan sebutan Abu Ya’la al-Hanbali. Lahir tahun 380 H, wafat 458 H. Beliau ini banyak mengarang kitab Usuluddin yang banyak menyampaikan tentang tasybih. Ada ulama mengatakan bahwa “Aib yang dibuat Abu Ya’ala ini tidak dapat dibersihkan dengan air sebanyak air laut sekalipun”. Tampaknya cacat pahamnya terlalu besar.

    3. Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Nashr az-Zaghunial-Hanbali, wafat 527 H. Beliau ini pengarang sebuah buku dalam usuluddin yangberjudul “Al Idah”, di mana banyak diterangkan soal tasybih dan tajsim.

    Ibn al Jawzi menjelaskan contoh kesalahpahaman mereka sebagai berikut

    **** awal kutipan *****
    Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang seringkali disalahpahami oleh kaum mujassimah adalah firman Allah

    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

    aamintum man fiis samaa-i (QS Al Mulk [67]:16)

    Argumen kuat dan nyata telah menegaskan bahwa yang dimaksud ayat ini bukan dalam makna dzahirnya karena dasar kata fis sama dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”; padahal Allah tidak diliputi oleh suatu apapun.

    Pemahaman ayat di atas tidak sesuai jika dipahami dalam makna indrawi (makna dzahir) seperti ini, karena bila demikian maka berarti Allah diliputi oleh langit. Pemahaman yang benar adalah bahwa ayat tersebut untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.
    ***** akhir kutipan ******

    Terhadap firmanNya pada (QS Al Mulk [67]:16) para mufassir (ahli tafsir) menafsirkannya menjadi “Apakah kamu merasa aman dengan yang (berkuasa) di langit”

    Berikut pemahaman mereka yang kami kutip dari http://almanhaj.or.id/content/3343/s...a-ada-di-atas/

    ***** awal kutipan *****
    Maksud man fis sama, ialah "Dzat yang berada di dalam langit" ialah Dzat yang berada di ata langit. Jadi, Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas langit (bukan di dalamnya, pent). Lantaran jumlah langit adalah tujuh, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berada di atas langit ke tujuh. Tempat 'Arsy berada di atas langit tujuh. Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala bersemayam di atas 'Ary tersebut sesuai dengan kesempurnaanNya, sedangkan ilmuNya meliputi segala tempat.

    Ini karena kata sambung (في , fii) pada ayat di atas mempunyai arti “di atas” (fauqiyyah dan ‘uluw), bukan sebagai zharfiyyah (keterangan tempat).

    Ketika kita mengatakan الماء في الكوز (air di dalam cangkir), dalam perkataan ini (في ) menjadi keterangan tempat (zharfiyyah), sehingga diartikan “di dalam”. Seperti halnya kita mengatakan الطُّلاَّبُ فِيْ الْقَاعَة (murid-murid di dalam kelas). Karena kelas mengelilingi mereka, maka diartikan murid-murid “di dalam” kelas. Tetapi hal ini tidak mungkin terjadi pada Allah, dimana langit mengelilingi-Nya. Maka kita artikan (في ) dengan “di atas”, karena ini juga salah satu makna (في ).

    Di antara dalil bahwa (في ) bermakna “di atas” juga adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’alaketika menceritakan perkataan Fir’aun kepada para penyihirnya:

    قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَاباً وَأَبْقَى

    Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku beri izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal-balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian di atas pohon kurma, dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya”. [Thâhâ/20:71].

    Dalam ayat ini Fir’aun mengancam para penyihir yang beriman dengan kenabian Musa. Mereka diancam akan disalib di atas pohon kurma. Apakah mungkin orang yang berakal mengatakan makna (في ) dalam ayat tersebut adalah “di dalam”? Lalu apa gunanya ancaman Fir’aun ini kalau para penyihir disalib di dalam pohon kurma? Bukankah Fir’aun melakukan ancaman ini supaya yang lain takut dengan kekejamannya? Bagaimana yang lain akan takut kalau tidak bisa melihat apa yang terjadi?
    ***** akhir kutipan *****

    Penjelasan Ibn al Jawzi di atas bahwa “fiis samaa-i” maknanya bukan”di atas langit” namun di (dalam) langit karena kata fis sama dalam bahasa Arab dipergunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang ”berada di dalam sebuah tempat dengan diliputi oleh tempat itu sendiri”

    Sedangkan mereka mengatakan bahwa fii tidak selalu berarti “di dalam” atau “pada” melainkan “di atas” bersandarkan firmanNya pada (QS Thaahaa [20]:71) fii judzuu’i sehingga mereka menafsirkan menjadi “dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian di atas pohon kurma” dengan alasan kalau disalib di (dalam) pohon kurma tidak akan terlihat orang banyak.

    Pertanyaannya kalau disalib di atas pohon kurma maka diperlukan sesuatu seperti kayu untuk menyalibnya di atas pohon kurma.

    Apalagi akan sulit terjadi kalau disalib di atas pohon kurma dalam arti tidak menempel di atas pohon kurma namun melayang karena mereka mengi'tiqodkan Tuhan di atas langit (di atas langit ke tujuh) bukan dalam arti Tuhan menempel di atas langit ke tujuh.

    Para mufassir (ahli tafsir) menafsirkan fii judzuu’i pada (QS Thaahaa [20]:71) adalah “dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pohon kurma” atau “dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian di pohon kurma”

    Ibn al Jawzi menjelaskan contoh kesalahpahaman mereka lainnya sebagai berikut

    ***** awal kutipan *****
    Sebagian mereka; dalam menetapkan keyakinan rusak bahwa Allah bertempat di arsy mengambil dalil –dengan dasar pemahaman yang keliru– dari firman Allah:

    إلَيْه يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطّيّبُ وَالعَمَلُ الصّالِحُ يَرْفَعُه

    Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. (QS Al Faathir [35]:10)

    Juga –dengan pemahaman yang keliru- dari firman Allah:

    وَهُوَ القَاهِرُ فَوْقِ عِبَادِهِ

    Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya (QS Al An’am [6]:61)

    Dari firman Allah QS. Fathir: 10 dan QS. al-An’am: 61 ini mereka menyimpulkan bahwa secara indrawi Allah berada di arah atas. Mereka lupa bahwa pengertian “fawq”, “فوق ” dalam makna indrawi (makna dzahir) hanya berlaku bagi setiap jawhar dan benda saja.

    Mereka meninggalkan makna “fawq” dalam pengertian “Uluww al-Martabah”, “علوّ المرتبة ”; “derajat yang tinggi”, padahal dalam bahasa Arab biasa dipakai ungkapan: “فلان فوق فلان ”; artinya; “Derajat si fulan (A) lebih tinggi dibanding si fulan (B)”, ungkapan ini bukan bermaksud bahwa si fulan (A) berada di atas pundak si fulan (B).
    ***** akhir kutipan *****

    Jadi “di atas” seperti ungkapan “serahkan sama yang di atas” bukan dalam pengertian tempat atau arah ataupun jarak namun maksudnya adalah “Uluww al-Martabah”, “علوّ المرتبة ”; “derajat yang tinggi” untuk mengungkapkan keagungan dan kemuliaan Allah.

    Allah ta’ala bersifat Qadim (terdahulu).

    Allah ta’ala tidak berubah, tidak dipengaruhi atau dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu, tidak dipengaruhi atau dibatasi oleh langit ataupun 'arsy, tidak dipengaruhi atau dibatasi oleh ciptaanNya

    Allah ta'ala tidak berubah, tidak berpindah, segala yang berpindah mempunyai bentuk dan ukuran sedangkan bentuk dan ukuran adalah sifat makhluk bukan sifat Allah Ta’ala.

    Allah ta’ala tidak berubah, sebagaimana sebelum diciptakan ‘Arsy , sebagaimana setelah diciptakan ‘Arsy

    Sebuah perubahan jika sebelum diciptakan ‘Arsy tidak bertempat kemudian menjadi bertempat di atas ‘Arsy setelah diciptakan ‘Arsy

    Allah ta'ala tidak berubah, tidak bertempat sebelum diciptakan 'Arsy dan tidak bertempat setelah diciptakan 'Arsy.

    Allah ta’ala tidak berubah, sebagaimana sebelum diciptakan ciptaanNya, sebagaimana setelah diciptakan ciptaanNya

    Allah ta’ala tidak berubah, sebagaimana awalnya dan sebagaimana akhirnya

    Firman Allah ta’ala yang artinya, “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir” (QS Al Hadiid [57]:3)

    Kalau kita perhatikan mereka keukeuh (bersikukuh) bahwa Allah ta’ala berubah menjadi berada atau bertempat di atas ‘Arsy setelah diciptakan Arsy maka artinya mereka merasa lebih pandai dalam memahami Al Qur'an dan As Sunnah serta perkataan ulama Salaf dibandingkan seorang mufti agung Mesir

    Salah satu syarat sebagai mufti Agung Mesir adalah lulusan Ph.D. Al-Azhar -tulen Al-Azhar dari sekolah dasar hingga strata tiga-, berpegang teguh kepada metode Al-Azhar.

    Sanad talaqqi dalam aqidah dan mazhab fikih yang sampai saat ini dilestarikan salah satunya oleh ulama dan universitas Al-Azhar Asy-Syarif. Hal inilah yang mengapa Al-Azhar menjadi sumber ilmu keislaman selama berabad-abad. Karena manhaj yang di gunakan adalah manhaj shahih talaqqi (mengaji dengan ulama) yang memiliki sanad yang jelas dan sangat sistematis. Sehingga sarjana yang menetas dari Al-azhar adalah tidak hanya ahli akademis semata tapi juga alim serta selalu terjaga kemutawatiran sanad, kemurnian agama dan akidahnya.

    Prof DR Ali Jum’ah dalam buku berjudul Menjawab Dakwah Kaum ‘Salafi’ yang diterbitkan oleh penerbit Khatulistiwa Press pada halaman 22 berkata

    ***** awal kutipan *****
    Allah ta’ala mustahil berada di sebuah arah dan tempat. Dan itu merupakan keyakinan kaum muslimin yang benar. Maksudnya, Allah ta’ala itu qadim (yang paling awal dan wujudnya tanpa sebab), bahwa mereka menetapkan sifat qidam (yang dahulu, awal) kepada Allah secara Dzatiyah. Dalam artian dzat Allah tidak diawali dengan wujud yang lain atau tidak ada yang lebih awal dari wujud Allah, sebagaimana terkandung dalam firmanNya yang artinya “Dialah yang awal” (QS Al Hadiid [57]:3)

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga bersabda “Engkaulah Dzat yang Awal maka tiada sesuatupun sebelum Engkau” (HR Muslim)

    Sifat Qidam berarti menafikan adanya wujud lain yang mendahului wujud Allah atau wujud lain yang bersamaan dengan wujud Allah. Oleh karena itu, sifat Qidam menghilangkan substansi pendahuluan bagi makhluk sebelum Allah. Begitupula dengan sifat-sifat Allah, semuanya qadiimah, tidak berubah dengan penciptaan makhluk yang sifatnya hadits (baru).

    Menetapkan arah dan tempat kepada Allah mengandung pengertian bahwa sesungguhnya Allah tidaklah bersifat fauqiyah (di atas) kecuali setelah Allah menciptakan alam semesta. Maka, sebelum penciptaan itu, Allah ta’ala tidak berada di arah ‘atas’ karena belum adanya sesuatu yang berada di arah ‘bawah’. Dengan demikian, keberadaan di tempat ‘atas’ merupakan sifat baru yang dihasilkan dengan adanya sesuatu yang baru. Oleh karena itu, sifat yang seperti ini tidak layak disematkan bagi Allah.

    Kaum muslimin juga meyakini bahwa Allah ta’ala berbeda dengan segala sesuatu yang bersifat baru, maksudnya dalam konteks hakikatnya. Maka dari itu, sifat jirmiyah (zat), aradhiyah (sifat), kulliyah (keumuman), juz’iyyah (kekhususan), dan juga hal-hal yang melekat pada keempat sifat itu tidak dapat dialamatkan kepada Allah. Hal yang melekat pada jirmiyah membutuhkan arah dan tempat, sementara aradhiyah butuh kepada zat lain agar bisa terwujud. Adapun kulliyah merupakan hal yang besar dan bisa dibagi , sedangkan yang melekat pada juz’iyyah adalah kecil, dan lain sebagainya.

    Berangkat dari itu, jika setan datang membisikan hati seseorang, “Andaikan Allah itu tidak jirim, aradh, kulli, atau juz’i, lantas apa hakikat Allah sebenarnya?” Maka jawablah godaan itu dengan, “Tidak ada yang tahu hakikat Allah kecuali hanya Allah semata”

    Perbedaan sifat Allah dengan makhlukNya itu tertuang dalam firmanNya yang artinya “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat” (QS Asy Syuura [42] : 11)

    Dan juga diambil dari sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab ra, “Sesungguhnya kaum musyrikin pernah berkata, “Wahai Muhammad, jelaskan kepada kami hakikat Tuhanmu” Lalu Allah ta’ala menurunkan ayat yang berbunyi

    “Katakanlah: “Dia lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. (QS Al Ikhlas 1-2)

    “Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (QS Al Ikhlas 3-4)

    Untuk ayat ketiga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan, “Karena sesungguhnya tidak ada satupun yang dilahirkan kecuali ia akan mati. Dan tidak ada sesuatu yang mati itu kecuali ia akan diwarisi. Sedangkan Allah itu adalah Zat yang tidak mati, dan juga tidak diwarisi”

    Sedangkan untuk ayat keempat dijelaskan oleh beliau, “Tidak ada satupun yang bisa menyamai dan menandingi Allah. Dan tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya”

    Dari dalil di atas, Allah ta’ala mensifati diriNya dengan menghilangkan sifat sepadan dan sifat-sifat lain yang tidak pantas dimiliki oleh-Nya. Begitupula yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dari sini kaum muslimin dapat memahami bahwa pada hakekatnya Allah ta’ala berbeda dengan segala sifat yang dimiliki semua makhluk.

    Dengan demikian, tidak boleh hukumnya mensifati Allah dengan sifat-sifat yang baru, termasuk juga bertanya dengan beberapa pertanyaan yang bisa mengarah ke sana. Tidaklah boleh bertanya tentang Allah dengan pertanyaan seperti, “Di manakah Allah?” dengan tujuan untuk mengetahui arah dan tempat di mana Zat Allah ta’ala berada. Akan tetapi, boleh menanyakan hal itu dengan bertujuan untuk mengetahui kekuasaan Allah ta’ala atau malaikat yang bertugas untuk-Nya
    ***** akhir kutipan *****

    Imam Sayyidina Ali ra juga mengatakan yang maknanya:“Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya dimana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana“

    Al Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan : “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi-Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”.

    Ibnu Hajar al Asqallâni dalam Fathu al Bâri-nya,1/221:“Karena sesungguhnya jangkauan akal terhadap rahasia-rahasia ketuhanan itu terlampau pendek untuk menggapainya, maka tidak boleh dialamatkan kepada ketetapan-Nya: Mengapa dan bagaimana begini? Sebagaimana tidak boleh juga mengalamatkan kepada keberadaan Dzat-Nya: Di mana?.”

    Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”. Tidak ada upaya, jerihpayah, dan kreasi-kreasi yang mampu menggambari-Nya,atau menolak dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib. Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya. Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.

    Imam Abu Hanifah mengatakan “Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqhul Absath karya Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).

    Begitupula Imam Nawawi (w. 676 H/1277 M) dalam Syarah Shahih Muslim (Juz. 5 Hal. 24-25) maka ia mentakwilnya agar tidak menyalahi Hadis Mutawatir dan sesuai dengan ushulus syariah. Yakni pertanyaan ‘Aina Allah? diartikan sebagai pertanyaan tentang kedudukan Allah bukan tempat Allah, karena aina dalam bahasa Arab bisa digunakan untuk menanyakan tempat dan juga bisa digunakan untuk menanyakan kedudukan atau derajat. Jadi maknanya; “Seberapa besar pengagunganmu kepada Allah?”. Sedangkan jawaban Fis Sama’ diartikan dengan uluwul kodri jiddan (derajat Allah sangat tinggi).

    Imam Syafi’i ~rahimahullah tentang hadits Jariyah berkata : “Dan telah terjadi khilaf pada sanad dan matan nya (hadits jariyah), dan seandainya shohih Hadits tersebut, maka adalah Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam- bertanya kepada hamba tersebut menurut kadar pemahaman nya, karena bahwa dia (hamba) dan kawan- kawannya sebelum Islam, mereka meyakini bahwa berhala adalah Tuhan yang ada di bumi, maka Nabi ingin mengetahui keimanannya,maka Nabi bertanya : “Dimana Allah ?” sehingga apabila ia menunjuk kepada berhala, Nabi mengetahui bahwa ia bukan Islam, maka manakala ia menjawab : “Di atas langit” Nabi mengetahui bahwa ia terlepas dari berhala dan bahwa ia adalah orang yang percaya kepada Allah yaitu Tuhan di langit dan Tuhan di bumi, atau Nabi mengisyarah dan ia mengisyarah kepada dhohir yang datang dalam Al-Quran”.

    Ibn Al Jawzi berkata “Aku (Ibnul Jawzi) berkata: “Para ulama (Ahlussunnah Wal Jama’ah) telah menetapkan bahwa Allah tidak diliputi oleh langit dan bumi serta tidak diselimuti oleh segala arah. Adapun bahwa budak perempuan tersebut berisyarat dengan mengatakan di arah langit adalah untuk tujuan mengagungkan

    Berikut penjelasan ulama yang sholeh dari kalangan keturunan cucu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni Sayyid Muhammad bin Alwi Maliki. Kami kutipkan dari terjemahan kitab beliau yang aslinya berjudul “Wahuwa bi al’ufuq al-a’la” diterjemahkan oleh Sahara publisher dengan judul “Semalam bersama Jibril ‘alaihissalam”

    ***** awal kutipan *****
    Mi’raj dan Syubhat tempat bagi Allah (hal 284)

    Walaupun dalam kisah mi’raj yang didengar terdapat keterangan mengenai naik-turunnya Rasulullah, seorang muslim tidak boleh menyangka bahwa antara hamba dan Tuhannya terdapat jarak tertentu, karena hal itu termasuk perbuatan kufur. Na’udzu billah min dzalik.

    Naik dan turun itu hanya dinisbahkan kepada hamba, bukan kepada Tuhan. Meskipun Nabi shallallahu alaihi wasallam pada malam Isra’ sampai pada jarak dua busur atau lebih pendek lagi dari itu, tetapi beliau tidak melewati maqam ubudiyah (kedudukan sebagai seorang hamba).

    Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan Nabi Yunus bin Matta alaihissalam, ketika ditelan hiu dan dibawa ke samudera lepas ke dasar laut adalah sama hal ketiadaan jarak Allah ta’ala dengan ciptaan-Nya, ketiadaanarahNya, ketiadaan menempati ruang, ketidakterbatasannya dan ketidaktertangkapnya. Menurut suatu pendapat ikan hiu itu membawa Nabi Yunusalaihissalam sejauh perjalanan enam ribu tahun. Hal ini disebutkan oleh alBaghawi dan yang lainnya.

    Apabila anda telah mengetahui hal itu, maka yang dimaksud bahwa Nabi Shallallahu walaihi wasallam naik dan menempuh jarak sejauh ini adalah untuk menunjukkan kedudukan beliau di hadapan penduduk langit dan beliau adalah makhluk Allah yang paling utama. Penegertian ini dikuatkan dengan dinaikkannya beliau diatas Buraq oleh Allah ta’ala dan dijadikan sebagai penghulu para Nabidan Malaikat, walaupun Allah Mahakuasa untuk mengangkat beliau tanpa menggunakan buraq.
    ****** akhir kutipan ******

    Mi’raj dan Arah (hal 286)

    ****** awal kutipan *****
    Ketahuilah bahwa bolak-baliknya Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam antara Nabi Musa alaihissalam dengan Allah subhanahu wa ta’ala pada malam yang diberkahi itu tidak berarti adanya arah bagi Allah subhanahu wata’ala. Mahasuci Allah dari hal itu dengan sesuci-sucinya.

    Ucapan Nabi Musa alaihissalam kepada beliau, “Kembalilahkepada Tuhanmu,” artinya: “kembalilah ke tempat engkau bermunajat kepada Tuhanmu. Maka kembalinya Beliau adalah dari tempat Beliau berjumpa dengan Nabi Musa alaihissalam ke tempat beliau bermunajat dan bermohon kepada Tuhannya.Tempat memohon tidak berarti bahwa yang diminta ada di tempat itu atau menempati tempat itu karena Allah Subhanahu wa ta’ala suci dari arah dan tempat. Maka kembalinya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam kepadaNya adalah kembali Beliau meminta di tempat itu karena mulianya tempat itu dibandingkan dengan yang lain. Sebagaimana lembah Thursina adalah tempat permohonan Nabi Musa alaihissalam di bumi.

    Walaupun beliau pada malam ketika mi’rajkan sampai menempati suatu tempat di mana Beliau mendengar gerak qalam, tetapi Beliau shallallahualaihi wasallam dan Nabi Yunus alaihis salam ketika ditelan oleh ikan dan dibawa keliling laut hingga samapai ke dasarnya adalah sama dalam kedekatan dengan Allah ta’ala. Karena Allah Azza wa Jalla suci dari arah, suci dari tempat, dan suci dari menempati ruang.

    Al Qurthubi di dalam kitab at-Tadzkirah, mengutip bahwa AlQadhi Abu Bakar bin al-’Arabi al Maliki mengatakan, ‘Telah mengabarkan kepadaku banyak dari sahabat-sahabat kami dari Imam al-Haramain Abu al Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf al Juwaini bahwa ia ditanya, “Apakah Allah berada di suatu arah?” Ia menjawab, “Tidak, Dia Mahasuci dari hal itu” Ia ditanya lagi, “Apa yang ditunjukkan oleh hadits ini?” Ia menjawab, “Sesungguhnya Yunus bin Matta alaihis salam menghempaskan dirinya kedalam lautan lalu ia ditelan oleh ikan dan menjadi berada di dasar laut dalam kegelapan yang tiga. Dan ia menyeru, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim,” sebagaimana Allah ta’ala memberitakan tentang dia.Dan ketika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam duduk di atas rak-rak yang hijau dan naik hingga sampai ke suatu tempat di mana Beliau dapat mendengar gerak Qalam dan bermunajat kepada Tuhannya lalu Tuhan mewahyukan apa yang Iawahyukan kepadanya, tidaklah Beliau shallallahu alaihi wasallam lebih dekat kepada Allah dibandingkan Nabi Yunus alaihis salam yang berada dikegelapan lautan. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala dekat dengan para hambaNya, Ia mendengar doa mereka, dan tak ada yang tersembunyi atasNya, keadaan mereka bagaimanapun mereka bertindak, tanpa ada jarak antara Dia dengan mereka“.

    Jadi, Ia mendengar dan melihat merangkaknya semut hitam diatas batu yang hitam pada malam yang gelap di bumi yang paling rendah sebagaimana Ia mendengar dan melihat tasbih para pengemban ‘Arsy di atas langit yang tujuh. Tidak ada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Ia mengetahui segala sesuatu dan dapat membilang segala sesuatu.
    ***** akhir kutipan *****

    Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah menceritakan kepada kami Zakariya’ dari Ibnu Asywa’ dari Amir dari Masruq dia berkata, “Aku berkata kepada Aisyah, ‘Lalu kita apakah firman Allah: ‘(Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan) ‘ (Qs. an-Najm: 8-10). Aisyah menjawab, ‘(Yang dimaksud ayat tersebut) adalah Jibril. Dia mendatangi Rasulullah dalam bentuk seorang laki-laki, dan pada kesempatan ini, dia mendatangi beliau dalam bentuknya yang sesungguhnya, sehingga dia menutupi ufuk langit’.” (HR Muslim 260)

    Dari Masruq dia berkata, “Aku yang duduk bersandar dari tadi, maka aku mulai duduk dengan baik, lalu aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin! Berilah aku tempo, dan janganlah kamu membuatku terburu-buru, (dengarlah kata-kataku ini terlebih dahulu), bukankah Allah telah berfirman: walaqad raaahu bialufuqi almubiini (QS at Takwir [81]:23) dan Firman Allah lagi: walaqad raaahu nazlatan ukhraa (QS An Najm 53]:13) Maka Aisyah menjawab, ‘Aku adalah orang yang pertama bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. mengenai perkara ini dari kalangan umat ini. Beliau telah menjawab dengan bersabda: Yang dimaksud ‘dia’ dalam ayat itu adalah Jibril (bukan Allah), “aku tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk asalnya kecuali dua kali saja, yaitu semasa dia turun dari langit dalam keadaan yang terlalu besar sehingga memenuhi di antara lagit dan bumi.” (HR Muslim 259)

    Al-’Allamah Asy-Syaikh Muhammad Nawawiy Asy-Syafi’iy Al-Bantaniy Al-Jawiy dalam kitabnya ” Nur Adh-Dhalam” syarah ‘Aqidatul ‘Awam halaman 42 baris 3-6 mengatakan: Allah Ta’ala tidak berada di suatu tempat maupun arah , Maha suci Allah dari yang demikian (bertempat atau berarah) , tempat hanya dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Rasulullah shalla Allahu ‘alaihi wasallam bersabda : Janganlah kamu menganggap aku lebih utama daipada Nabi Yunus bin Matta , maksudnya : Janganlah kamu berprasangka bahwa aku lebih dekat kepada Allah daripada Nabi Yunus hanya karena Allah mengangkat aku ke atas langit yang tujuh sedangkan Nabi Yunus berada didasar lautan didalam ikan , masing-masing dari kami berdua nisbat kedekatan dari Allah ada pada batasan yang sama

    al-Imam al-‘Allamah al-Qadli Nashiruddin ibn al-Munayyiral-Maliki, salah seorang ulama terkemuka sekitar abad tujuh hijriyah, dalam karyanya berjudul al-Muqtafa Fi Syaraf al-Musthafa telah menuliskan pernyataan al-Imam Malik bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dalam karyanya tersebut, al-Imam Ibn al-Munayyir mengutip sebuah hadits, riwayat al-Imam Malik bahwa Rasulullah bersabda: “La Tufadl-dliluni ‘Ala Yunus Ibn Matta” (Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta). Dalam penjelasan hadits ini al-Imam Malik berkata bahwa Rasulullah secara khusus menyebut nabi Yunus dalam hadits ini, tidak menyebut nabi lainya, adalah untuk memberikan pemahaman aqidah tanzih, -bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah-. Hal ini karena Rasulullah diangkat ke atas ke arah arsy -ketika peristiwa Mi’raj-,sementara nabi Yunus dibawa ke bawah hingga ke dasar lautan yang sangat dalam-ketika beliau ditelan oleh ikan besar-, dan kedua arah tersebut, baik arah atas maupun arah bawah, keduanya bagi Allah sama saja. artinya satu dari lainnya tidak mempunyai jarak dan arah kepada-Nya, karena Allah ada tanpa tempat. Seandainya kemuliaan itu diraih karena berada di arah atas, maka tentu Rasulullah tidak akan mengatakan “Janganlah kalian melebih-lebihkan aku di atas nabi Yunus ibn Matta”. Dengan demikian, hadits ini oleh al-Imam Malik dijadikan salah satu dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah (Lihat penjelasanini dalam al-Muqtafa Fi syaraf al-Mustahafa. Perkataan Al-Imam Malik ini juga dikutip oleh Al-Imam Taqiyyuddin as-Subki dalam karya bantahannya atas Ibn al-Qayyim al-Jaiziyyah (murid Ibn Taimiyah); yang berjudul as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil. Demikian pula perkataan Al-Imam Malik ini dikutip oleh Al-Imam Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam karyanya Ithaf as-Sadahal-Muttaqin Bi Syarah Ihya ‘Ulumiddin).

    Imam ath Thahawi dalam kitabnya Aqiidah ath Thaahawiyah berkata, “Barangsiapa yang enggan (tidak mau) menafikan sifat makhluk kepada Allah atau menyamakan-Nya dengan sifat makhluk, maka ia telah sesat dan tidak melakukan tanzih (mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk). Karena sesungguhnya Tuhan kami yang Maha Agung dan Maha Mulia itu disifati dengan sifat-sifat wahdaniyyah (tunggal) dan fardaniyyah (kesendirian). Hal ini artinya, tidak ada satupun makhluk yang menyamaiNya. Maha Suci Allah dari segala macam batasan, tujuan, pilar, anggota dan aneka benda. Allah ta’ala tidak butuh enam arah (atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang) seperti halnya makhluk ( Abu Ja’far Ahmad bin Salamah Ath Thahawi , Aqidah Ath Thahaawiyyah halaman 26)

    Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam: “Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu, Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada sesuatu di atasMu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Bathin, maka tidak ada sesuatu di bawahMu”. (HR Muslim 4888)

    Dalam salah satu kitab al-Fiqh al-Akbar [selain Imam Abu Hanifah; Imam asy-Syafi'i juga menuliskan Risalah Aqidah Ahlussunnah dengan judul al-Fiqh al-Akbar] Imam Asy Syafi’i ~rahimahullah ketika ditanya terkait firman Allah QS. Thaha: 5 (ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa), Beliau berkata “Dia tidak diliputi oleh tempat (ruang), tidak berlaku bagi-Nya waktu, Dia Maha Suci dari batasan-batasan (bentuk) dan segala penghabisan, dan Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah, Dia Maha suci dari kepunahan dan segala keserupaan” (al-Fiqh al-Akbar, h. 13).

    Tentang istawa Imam Abu Hanifah mengatakan “Dan kita mengimani adanya ayat “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” -sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an- dengan menyakini bahwa Allah tidak membutuhkan kepada ‘‘arsy tersebut dan tidak bertempat atau bersemayam di atasnya. Dia Allah yang memelihara ‘‘arsy dan lainnya tanpa membutuhkan kepada itu semua. Karena jika Allah membutuhkan kepada sesuatu maka Allah tidak akan kuasa untuk menciptakan dan mengatur alam ini, dan berarti Dia seperti seluruh makhluk-Nya sendiri. Jika membutuhkan kepada duduk dan bertempat, lantas sebelum menciptakan makhluk-Nya -termasuk ‘arsy- di manakah Dia? Allah maha suci dari itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh asy-Syekh Mullah ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70.).

    Berkata Imam Ahlus Sunnah Abu Mansur Al-Maturidi: “Adapun mengangkat tangan ke langit adalah ibadah, hak Allah menyuruh hamba-Nya dengan apa yang Ia kehendaki, dan mengarahkan mereka kemana yang Ia kehendaki, dan sesungguhnya sangkaan seseorang bahwa mengangkat pandangan ke langit karena Allah di arah itu, sungguh sangkaan itu sama dengan sangkaan seseorang bahwa Allah di dasar bumi karena ia meletakkan muka nya di bumi ketika Shalat dan lain nya, dan juga sama seperti sangkaan seseorang bahwa Allah di timur/barat karena ia menghadap ke arah tersebut ketika Shalat, atau Allah di Mekkah karena ia menunaikan haji ke Mekkah” [Kitab At-Tauhid - 75]

    Berkata Imam Nawawi: “Dan Dialah Allah yang apabila orang menyeru-Nya, orang itu menghadap ke langit (dengan tangan), sebagaimana orang Shalat menghadap Ka’bah, dan tidaklah demikian itu karena Allah di langit, sebagaimana bahwa sungguh Allah tidak berada di arah Ka’bah, karena sesungguhnya langit itu qiblat orang berdoa sebagaimana bahwa sungguh Ka’bah itu Qiblat orang Shalat” [Syarah Shahih Muslim jilid :5 hal :22]

    Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Ibnu Batthal berkata: sesungguhnya langit itu qiblat doa, sebagaimana Ka’bah itu qiblat Shalat” [Fathul Bari, jilid 2, hal 296]

    Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi berkata: “Maka adapun angkat tangan ke arah langit ketika berdoa, karena sesungguhnya langit itu qiblat doa” [Ittihaf, jilid 2, hal 170]. kemudian Imam Al-Hafidh Murtadha Az-Zabidi juga berkata: “Jika dipertanyakan, ketika adalah kebenaran itu maha suci Allah yang tidak ada arah (jihat), maka apa maksud mengangkat tangan dalam doa ke arah langit ? maka jawaban nya dua macam yang telah disebutkan oleh At-Thurthusyi :

    Pertama: sesungguhnya angkat tangan ketika doa itu permasalahan ibadah seperti menghadap Ka’bah dalam Shalat, dan meletakkan dahi di bumi dalam sujud, serta mensucikan Allah dari tempat Ka’bah dan tempat sujud, maka langit itu adalah qiblat doa.

    Kedua: manakala langit itu adalah tempat turun nya rezeki dan wahyu, dan tempat rahmat dan berkat, karena bahwa hujan turun dari langit ke bumi hingga tumbuhlah tumbuhan, dan juga langit adalah tempat Malaikat, maka apabila Allah menunaikan perkara, maka Allah memberikan perkara itu kepada Malaikat, dan Malaikat-lah yang memberikan kepada penduduk bumi, dan begitu juga tentang diangkat nya segala amalan (kepada Malaikat juga), dan dilangit juga ada para Nabi, dan langit ada syurga yang menjadi cita-cita tertinggi, manakala adalah langit itu tempat bagi perkara-perkara mulia tersebut, dan tempat tersimpan Qadha dan Qadar, niscaya tertujulah semua kepentingan ke langit, dan orang-orang berdoa pun menunaikan ke atas langit”[Ittihaf, jilid 5, hal 244]

    Sedangkan ungkapan-ungkapan seperti

    “Allah wujud (ada) di mana mana”
    “apa yang terlihat di mana mana adalah wujud (keberadaan) Allah”
    “Hakekat alam dan isinya atau atau semua yang terlihat oleh mata, hakekatnya adalah wujud Allah”

    Bukan berarti Allah ta’ala bertempat di mana mana namun maknanya adalah bahwa dengan kita memperhatikan alam dan isinya atau semua yang terlihat oleh mata yang merupakan tanda-tanda kekuasaanNya atau disebut juga ayat-ayat kauniyah maka kita bisa mengetahui dan meyakini keberadaan dan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala

    Manusia mengenal Allah (makrifatullah) melalui tanda-tanda kekuasaanNya yang merupakan ayat-ayat kauniyah yaitu ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Ayat-ayat ini meliputi segala macam ciptaan Allah,baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos).

    Firman Allah ta’ala yang artinya

    “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53)

    “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran [3]:191).

    “Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman“. (QS Yunus [10] : 101).

    Jadi keberadaan atau wujud Allah bukan dengan cara menempatkanNya disuatu tempat seperti di langit atau di atas ‘Arsy namun dengan memikirkan nikmat yang telah diberikanNya atau dengan memikirkan tanda-tanda (kekuasaan) Allah Azza wa Jalla

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga telah melarang kita untuk memikirkan atau menanyakan tentang DzatNya dan menyarankan untuk meyakini keberadaan Allah dengan memikirkan nikmat yang telah diberikanNya atau dengan memikirkan tanda-tanda (kekuasaan) Allah Azza wa Jalla

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ” Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah“.

    Berikut kutipan percakapan antara Imam Abu Hanifah dengan seorang atheis yang menanyakan tentang DzatNya

    Orang Atheis : ” Bagaimana bentuk Dzat Tuhan, apakah dia seperti air, besi atau seperti asap ?”
    Imam Abu Hanifah : “Pernahkah anda melihat orang sakratul maut dan meninggal? apakah yang terjadi?”
    Orang Atheis : “Keluarnya ruh dari jasad “.
    Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana bentuk ruh ?”
    Orang Atheis : “Kami tidak tahu”
    Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana kita bisa menjelaskan ruh Dzat Tuhan, sementara ruh ciptaan -Nya saja anda tidak tahu”.

    Orang Atheis : “Lantas di tempat manakah tuhan berada?”
    Imam Abu Hanifah : “Kalau kita menyuguhkan susu segar, maka di dalam susu itu adakah minyak samin?”
    Orang Atheis : “ya.”
    Imam Abu Hanifah : ” Dimanakah letak minyak samin?”
    Orang Atheis : “Minyak samin itu bercampur menyebar di dalam kandungan susu”.
    Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana aku harus menujukkan dimana Allah berada, kalau minyak samin yang ciptaan manusia saja tidak dapat anda lihat dalam kandungan susu itu?”

    Contoh yang lain

    ***** awal kutipan *****
    Tanya Pemuda : Saya punya 3 buah pertanyaan

    1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
    2. Apakah yang dinamakan takdir
    3. Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

    Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.

    Tanya Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?
    Jawab Kyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah Jawab an saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.
    Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti
    Tanya Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
    Jawab Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit
    Tanya Kyai : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
    Jawab Pemuda : Ya
    Tanya Kyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu !
    Jawab Pemuda : Saya tidak bisa
    Kyai : Itulah Jawab an pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.
    Tanya Kyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
    Jawab Pemuda : Tidak
    Tanya Kyai : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
    Jawab Pemuda : Tidak
    Kyai : Itulah yang dinamakan Takdir
    Tanya Kyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
    Jawab Pemuda : kulit
    Tanya Kyai : Terbuat dari apa pipi anda?
    Jawab Pemuda : kulit
    Tanya Kyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
    Jawab Pemuda : sakit
    Kyai : Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan.
    ***** akhir kutipan ****

    Syaikh Nawawi al Bantani berkata, Barang siapa meninggalkan 4 kalimat maka sempurnalah imannya, yaitu

    1. Dimana
    2. Bagaimana
    3. Kapan dan
    4. Berapa

    Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Dimana Allah ? Maka jawabnya : Allah tidak bertempat dan tidak dilalui oleh masa
    Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Bagaimana sifat Allah ? Maka jawabnya : Tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya
    Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Kapan adanya Allah ? Maka jawabnya : Pertama tanpa permulaan dan terakhir tanpa penghabisan
    Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Ada Berapa Allah ? Maka jawabnya : Satu Sebagaimana firman Allah Ta`ala di dalam Qalam-Nya Surat Al-Ikhlas ayat pertama : “Katakanlah olehmu : bahwa Allah itu yang Maha Esa (Satu).
    Jika ada orang yang bertanya pada Anda : Bagaimana Dzat dan sifat Allah ? Maka jawabnya : Tidak boleh membahas Dzat Allah Ta`ala dan Sifat-sifatnya. Karena meninggalkan pendapat itu sudah termasuk berpendapat. Membicarakan Zat Allah Ta`ala menyebabkan Syirik. Segala yang tergores didalam hati anda berupa sifat-sifat yang baru adalah pasti bukan Allah dan bukan sifatnya.

    Wassalam


    Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830

  2. #2
    myQ Newbie BhreWijaya's Avatar
    Tanggal Bergabung
    Oct 2014
    Posts
    4
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    Alloh swt tidak butuh tempat, buktinya ketika ruang/tempat belum ada Dia sudah ada….tapi ketika tercipta ruang/tempat (dengan terciptanya Arsy) maka dengan sendirinya Dia swt memiliki posisi berkaitan ruang/tempat itu, yaitu Dia swt diluar ruang/tempat itu…dan posisi itu di atas Arsy….sebab dengan Dia swt berada di luar ruang maka dengan sendirinya Dia swt tidak menempati ruang/tempat, jadi tetap masih bisa dikatakan Dia swt tidak butuh ruang/tempat…..nah kalau sekarang ada pertanyaan “dimana Alloh swt ketika Arsy (ruang/tempat) belum ada?”….ada jawabannya di dalam al-hadits yakni ” fi amaa’, laisa fauqohu hawaa’ wa laisa tahtahu hawaa’ ” artinya ” di amaa’, tidak ada ruang di atas-Nya maupun di bawah-Nya “…..jadi amaa’ adalah kondisi tidak ada ruang…..

  3. #3
    myQ Newbie kaandnjani's Avatar
    Tanggal Bergabung
    Aug 2017
    Lokasi
    kandangan, kalsel
    Posts
    16
    Thanks
    0
    Thanked 0 Times in 0 Posts
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    Mengatakan bahwa istiwa Allah membutuhkan tempat termasuk dalam takyif yg dilarang...cukup kita beriman bahwa Allah beristiwa di atas arasy dengan istiwa yg sesuai dengan keagungannya tanpa tasybih, tamsil, ta'thil, takwil dan tahrif...

    Kesamaan isim tidak serta merta menghasilkan lazim (konsekwensi) samanya musamma... Mendengar adalah sifat Allah dan itu lafazh musytarak karena makhluk juga mendengar tapi kan hakikatnya beda... Jika kita bisa memahami ini apa susahnya memahami bahwa istiwa Allah berbeda dengan Makhluk secara hakikat walaupun isimnya sama...?

    Akidah salaf sangat mudah untuk difahami...
    Terakhir diperbarui oleh kaandnjani; 04-08-2017 pada 10:53.

  4. #4
    myQ Perambah
    Tanggal Bergabung
    Feb 2014
    Lokasi
    JATIM
    Posts
    395
    Thanks
    60
    Thanked 1 Time in 1 Post
    Mentioned
    1 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)
    100% betul....amat mudah sebenarnya pemahaman tsb

Similar Threads

  1. Jama'ah minal muslimin sebaiknya tidak berubah menjadi firqoh
    By ZonJonggol in forum Dunia Dakwah Islam
    Replies: 0
    Postingan Akhir: 13-11-2013, 05:15
  2. Replies: 0
    Postingan Akhir: 07-10-2013, 18:24
  3. Replies: 0
    Postingan Akhir: 05-08-2013, 04:42
  4. BENARKAH NABI ADAM DICIPTAKAN TUHAN SEBAGAI MANUSIA YANG PERTAMA?
    By Hedi in forum Inkarussunnah, Liberalisme & Anti Hadits
    Replies: 10
    Postingan Akhir: 18-08-2011, 12:26
  5. Berubah pikiran...Iya menjadi Tidak
    By ervin in forum Bina Keluarga
    Replies: 39
    Postingan Akhir: 16-11-2006, 16:46

Bookmarks

Hak Akses Postingan

  • Kamu tidak boleh membuat thread baru
  • Kamu tidak boleh membalas postingan
  • Kamu tidak boleh kirim lampiran
  • Kamu tidak boleh mengedit postinganmu
  •